August 17, 2008

Only 5 Minutes

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. "Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga."Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,"sambungnya, memperkenalkan.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?" Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa...?" Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya.

More...

                            

August 10, 2008

Ayah Juga Lupa

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan, ayah!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

More...

February 07, 2008

Leave Out All The Rest

Title: Leave Out All The Rest
Artist: Linkin Park
Album: Minutes To Midnight


i dreamed i was missing
you were so scared
but no one would listen
cause no one else cared
after my dreaming
i woke with this fear
what am i leaving
when i'm done here
so if you're asking me i want you to know


REFF:
when my time comes
forget the wrong that i've done
help me leave behind some
reasons to be missed
don't resent me
and when you're feeling empty
keep me in your memory
leave out all the rest
leave out all the rest


don't be afraid
i've taken my beating
i've shared what i made
i'm strong on the surface
not all the way through
i've never been perfect
but neither have you
so if you're asking me i want you to know


*REFF
forgetting / all the hurt inside you learned to hide so well
pretending / someone else can come and save me from myself
i can't be who you are

February 24, 2007

Herman Van Breen, Banjir Jakarta, dan Inlander Bodoh

Barusan dapet email yang berkaitan dengan banjir yang terjadi akhir-akhir ini di jakarta. Semoga dengan email ini dapat menyentuh hati nurani kita semua, khususnya pemda DKI, agar lebih peduli dengan lingkungan kita

Enjoy...

Tahukah anda, bahwa pada tahun 1918, Prof. Dr. Herman Van Breen ditugaskan oleh Departement Waterstaat pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan studi pencegahan banjir di Batavia. Akhirnya, Van Breen melahirkan sebuah konsep spektakuler dan visioner pada jaman itu yang dikenal dengan proyek Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Ide konsep itu sederhana, yaitu membatasi volume air yang masuk ke Batavia melalui 13 sungai, diantaranya Sungai Cakung,
Jati Kramat, Buaran, Sunter, Cipinang, Ciliwung, Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, Mookervart, dan Angke. Selanjutnya, limpahan debit air akan dibuang melalui sisi kiri dan kanan kota ke laut.

Pada tahun 1922, dimulailah pembangunan tahap pertama, yaitu Banjir Kanal Barat. Setelah Indonesia merdeka, Mimpi Herman Van Breen untuk melanjutkan pembangunan Banjir Kanal Timur sebagai tahap kedua untuk membebaskan Batavia dari banjir tidak pernah terwujud.

Proyek Banjir Kanal Timur baru disahkan dalam rencana Tata Kota DKI pada tahun 1973. Sekarang sudah 34 tahun Banjir Kanal Timur masuk rencana Tata Kota DKI, tetapi hanya 7 km dari 23 km dalam rencana Banjir Kanal Timur yang sudah digali.

Betapa visionernya rencana Van Breen, saat itu luas Batavia hanya 2.500 Ha, tetapi sudah membuat rencana penggalian Kanal Barat dan Timur sebesar itu.

Proyek Banjir Kanal Barat yang berhasil diwujudkannya telah menyelamatkan wilayah Batavia dari banjir selama 40 tahun. Sekarang wilayah Jakarta sudah seluas 65.000 Ha atau 26 kali Batavia, tetapi bukannya Banjir Kanal Timur diwujudkan, malah Banjir Kanal Barat tidak pernah dipelihara dengan baik dan diperluas.

Sutiyoso beralasan bahwa untuk mewujudkan Banjir Kanal Timur dibutuhkan dana yang sangat besar, yaitu sekitar 4,9 Trilyun dan Pemda DKI tidak mampu menyediakan dana sebesar itu. Tetapi tahukah anda bahwa proyek Busway 40 koridor menghabiskan dana 21 Trilyun dan harus diselesaikan selama dua tahun. Padahal busway yang direncanakan bukanlah jalur-jalur penting yang bisa mengalihkan pengendara mobil pribadi ke busway kecuali Koridor I yang melalui jalur Sudirman - Thamrin. Betapa bodohnya pemimpin bangsa ini.

Bila saja Herman Van Breen menyaksikan banjir yang menenggelamkan 2/3 Jakarta saat ini dan tidak pernah terwujudnya proyek Banjir Kanal Timur selama 89 tahun sejak dia cetuskan, pastilah dia akan menangis tersedu-sedu, "Betapa bodohnya inlander-inlander ini".

December 19, 2006

Cihuiiiyyyyyyyyyyyyyyy

Tehnisi BlogFam

Duhhhh,, jadi mayuuuu nihhhh, terharu gw sampai tidak bisa berkata apa2x, selain mengucapkan thanks berat buat seluruh panitia lomba, moderator serta semua blogfamers, muachhhhhhhhhhhhhhhh

Long live Blogfam and Blogfamers !!!

December 03, 2006

Blogfam Ulang Tahun

Forum BlogFam Lomba Hut ke-3 Blogfam

Tanggal 6 desember 2006, BlogFam akan berulang tahun yang ke-3. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini BlogFam kembali menggelar 3 jenis lomba. Yuukk ikutan ...

Simak baik-baik ..

JENIS DAN WAKTU LOMBA.
Jenis Lomba : Lomba Entry, Lomba Foto dan Lomba Template.

sosialisasi dan pendaftaran : 15 Nov - 5 desember 2006
pelaksanaan lomba : 6 Desember 2006
penjurian dan poling : 6 - 15 des 2006
pengumuman : 18 Desember 2006.

Mau ikutan ? Sok, silahken dipencet disini:
http://blogfam.com/forum/viewtopic.php?t=8522

August 17, 2006

[Resensi Buku] Ortu Kenapa, Sih ?

 
Judul: Teen World: Ortu Kenapa, Sih ?
Penulis: Blogfam (Lili Lengkana, Nunik Utami Ambarsari, Ryu Tri, Lafrania Taufik, Sylvia R. Agustini, Eben Ezer Siadari, Be Samiyono, Gat, Iwok, Ika Widyastuti, Koko P. Bhairawa, Irayani Queencyputri)
Penyunting Naskah: Benny Rhamdani
Penerbit: Penerbit Cinta
Cetakan: I, Juni 2006
Tebal: 154 hlm
Lomba Blogfam HUT Kemerdekaan RI ke 61


   
Seiring semakin canggihnya teknologi di masa kini, mengakibatkan penyebaran informasi yang serba cepat. Apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan akan norma-norma kehidupan yang benar, maka niscaya informasi yang diterima dapat menimbulkan efek negatip baik bagi si penerima informasi maupun orang-orang di sekelilingnya.


Berangkat dari pentingnya pemahaman akan hal tersebut diatas, beberapa member blogfam (sebuah komunitas blogger) bersama-sama menulis sebuah buku yang ditujukan bagi kaum remaja, mengingat di usia remaja yang sangat rentan terhadap segala informasi yang diterimanya. Apabila tidak dibekali akan pengetahuan norma kehidupan yang benar, niscaya semua informasi tersebut akan diterima mentah-mentah oleh remaja tersebut.


Dengan bahasa gaul dan mudah dimengerti, buku ini sangatlah cocok untuk para remaja dalam menyikapi segala sesuatu di dalam hubungannya dengan keluarga, khususnya dalam hal berkomunikasi dengan orang tua. Cerita pada setiap lembaran di buku ini adalah merupakan pengalaman pribadi dari para penulis sendiri, hal tersebut merupakan nilai plus tersendiri mengingat pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam kehidupan.


Selain itu juga pada setiap bagian akhir cerita pada buku ini dilengkapi dengan quistioner ataupun tips-tips. Sehingga para pembaca akan semakin memahami intisari yang dimaksud oleh sang penulis pada cerita tersebut


Meskipun demikian, buku ini tidak selalu menawarkan solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak, dikarenakan buku ini terkesan hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu dari pihak remaja, sehingga semua tips-tips ataupun quistioner seakan-akan hanya "meminta" agar para remaja untuk mengubah cara berkomunikasi mereka. Sedangkan untuk mencapai hasil yang terbaik dalam berkomunikasi, kedua belah pihak, orangtua dan remaja, diharapkan merubah cara berkomunikasi menjadi lebih banyak mendengar daripada berbicara (menuntut). Seperti pada cerita "Impian Ancur", dimana orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya sehingga secara tidak langsung mengorbankan masa depan anaknya sendiri. Mungkin buku ini konsumsi utamanya adalah remaja, akan tetapi tak ada salahnya apabila pada setiap akhir bagian cerita, diikutsertakan pula tips untuk para orangtua, siapa tahu banyak pula orang tua yang ikut membaca buku ini.


Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini juga sangatlah bagus untuk dibaca oleh orangtua, sehingga orangtua dapat lebih mengerti dan memahami apa maksud dari si anak, sehingga tidak ada lagi kisah-kisah "Impian Ancur" di masa depan.


Last but not least, selalu utamakan kesabaran dan kerendahan hati dalam berkomunikasi, meskipun memang hal tersebut merupakan sesuatu yang gampang untuk diucapkan, tetapi kadang-kadang sangat sulit untuk diterapkan


   

Written by: Monx Digital Library

July 24, 2006

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.


Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.


Part of Wise Word Collections

July 20, 2006

Bila Gempa Menghantam Jakarta

Wednesday, July 19, 2006
Bila Gempa Menghantam Jakarta
Oleh Sapariah Saturi

Misalnya gempa 6 skala Richter menghantam Teluk Jakarta, bukan Teluk Sunda, kira-kira apa yang akan terjadi pada Jalan Sudirman dan Thamrin? Gedung mana retak, mana roboh? Apakah ada kebakaran? Kalau ibukota rusak, sarana komunikasi rusak, pemimpin bahkan ada yang mati, bagaimana kira-kira dampaknya pada ekonomi dan politik Indonesia?

Antonius Budiono termasuk sedikit orang di Jakarta yang berpikir soal skenario ini. Ia sadar berbagai gempa yang melanda Indonesia -dari Pulau Alor hingga Nabire di Papua, dari tsunami di Aceh hingga goyangnya Jogjakarta-membuat Jakarta harus diperhitungkan.

Perhitungan yang tak mudah ketika banyak sekali parameter yang tak bisa dihitung. Jangan-jangan gempa tak pernah bakal menerpa Teluk Jakarta ini?

Budiono seorang master manajemen konstruksi lulusan Universitas Washington, St. Louis. Ia baru-baru ini ikut menangani renovasi Istana Merdeka. "Banyak rahasianya," katanya, tertawa. Kalau digoogle, namanya selalu terkait dengan kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Budiono kini Direktur Tata Bangunan Direktorat Jendral Cipta Karya dari Departemen Pekerjaan Umum.

Sederhananya, menurut perhitungan Budiono, Indonesia dibagi dalam enam zona gempa. Tiap zona punya kategori sendiri yang terkait dengan percepatan bergesernya batuan dasar yang terkait dengan gravitasi bumi.

Jakarta termasuk zona tiga atau kategori menengah, sama dengan Jogjakarta. Daerah rawan empat terdekat Jakarta adalah Sukabumi yang terletak di atas patahan bumi Pulau Jawa.

Aceh, Pulau Nias dan Pulau Simeulue, Ujung Kulon dan Pantai Pangandaran termasuk zona enam atau kawasan paling rawan. Daerah sekitar Aceh inilah yang dihantam gempa 9 skala Richter pada 26 Desember 2004 dengan korban tsunami 126.000 jenasah dan 70.000 hilang. Hampir separuh kota Banda Aceh rata dengan tanah. Gempa serupa melanda pantai selatan Pulau Jawa pada 18 Juli 2006 dengan skala hampir 7 Richter dan korban hanya 80 orang lebih.

Di Jakarta, Budiono memperkirakan mayoritas bangunan, terutama gedung bertingkat sepanjang Sudirman dan Thamrin, sudah didesain sesuai apa yang disebut Standar Nasional Indonesia. "Jakarta pasti dicek gedungnya ... sepanjang gempanya zona tiga atau empat itu masih aman."

Pemerintah Jakarta juga memiliki beberapa tim untuk menilai izin pembangunan. Ada Tim Penasehat Arsitektur Kota, Tim Penasehat Konstruksi Bangunan dan Tim Ahli Utilitas Bangunan.

Agus Subardono dari Dinas Tata Kota Jakarta mengatakan, "Bayangkan saja, kalau di kantor bertingkat, gempa dan bangunan roboh, berapa kerugian? Bukan hanya material tapi sumber daya manusia yang akan hilang? Saya kira tidak ada yang mau mengambil risiko itu. Terlalu tinggi."

Sejak zaman Hindia Belanda, negeri ini sudah memiliki aturan bangunan tahan gempa. Terakhir pada 2002, parlemen Indonesia mengeluarkan UU Bangunan dan Gedung dimana diatur bahwa kantor dan rumah harus dibangun mengikuti ketentuan tahan gempa dan kebakaran.

Ajaibnya, tak semua aturan itu ditaati pemerintah kota-kota. Antonius Budiono mengatakan pada 1995-1998, dari 320 kabupaten di Indonesia hanya 220 yang mempunyai "perda bangunan" atau hanya 70%.

Dari 70% itu, yang aturannya mengatur persyaratan teknis, hanya 25% atau 55 kabupaten. Persyaratan teknis itupun lebih pada ketinggian bangunan atau tata ruang. Sedikit sekali yang mengatur gempa dan kebakaran.

Hitung saja berapa gedung pencakar langit di Jakarta yang memiliki helipad? Berapa gedung yang rutin bikin fire drill atau latihan kebakaran? Berapa organisasi yang setiap tahun bikin latihan lari dari gempa?

Bambang Pranoto dari Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi, sebuah organisasi nonpemerintah, mengatakan aturan memang ada namun tiada organisasi yang melakukan "sertifikasi" untuk menilai kelayakan bangunan. Disain bangunan mayoritas baik tapi pelaksanaan bangunan urusan lain lagi. Umur bangunan kebanyakan juga lebih pendek dari perkiraan disain.

"Konstruksi adalah proses produksi. Jadi tak bisa hanya dilihat dari kualitas perencanaan kekuatan terhadap beban atau pemakai . termasuk gempa," kata Bambang.

Ingat beberapa bulan lalu ketika tiang antena TV7 di daerah Kebon Jeruk roboh terkena hujan angin dan menewaskan tiga orang? Ternyata tower itu dibangun tanpa izin. Di Jakarta ada ribuan tower dibangun tanpa izin. Rancangan konstruksi tower TV7 terlalu kecil dan dekat pemukiman.

Atau ingat ketika jalan tol Cipularang amblas? Jalan tol sepanjang 40 km itu baru dioperasikan dalam hitungan bulan. Ia ambruk dan rusak berat pada 28 dan 29 November 2005 di beberapa tempat. Pada 29 Januari 2006, ia juga longsor dalam di daerah Lebak Ater. Padahal nilai investasi jalan itu Rp1,7 triliun.

"Itu belum ada gempa lho sudah runtuh!" kata Bambang Pranoto.

Banyak alasan diutarakan, dari menyalahkan tanah -demi Allah, birokrat dan politisi di Pulau Jawa ini bisa menyalahkan "tanah tidak stabil"-- sampai desain khusus yang belum dimiliki Departemen Pekerjaan Umum.

Kepala Balitbang Departemen Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono mengatakan, "Ini muncul karena tidak ada konsistensi dalam melaksanakan pekerjaan."

Di Jakarta, memang sulit mengukur dampak dari gempa akibat "inkonsistensi" pelaksanaan bangunan. Ini seharusnya jadi semacam wake up call sesudah gempa Jogjakarta dan tsunami Pangandaran.

Pada 27 Mei lalu, terjadi gempa 5,9 skala Richter di Samudera Hindia dengan jarak epicentrum 37 km dari Jogjakarta. Dalam hitungan menit, ia meratakan 140.000 bangunan dan rumah di sekitar Jogjakarta. Korban jiwa 6.234 serta luka 46.148 orang. Bangunan rusak mencapai 94.000. Padahal Jogjakarta sudah punya "perda bangunan."

Kalau epicentrum serupa muncul di Teluk Jakarta, ia mempengaruhi seluruh bangunan dari Ancol hingga Ciputat. Daerah-daerah padat, dan hampir seluruh Jakarta adalah daerah padat, bisa diperkirakan mengalami dampak terbesar bila konstruksi bangunan tidak punya atau tidak sesuai izin.

Bangunan-bangunan pencakar langit yang bertumpuk di Jakarta bisa runtuh. Kawasan sibuk macam Sudirman dan Thamrin akan jadi kacau bila gempa terjadi pada jam kerja. Begitu juga infrastruktur lain, seperti jalan layang juga jalan tol. Masih untung bila gempa terjadi pada hari Sabtu atau Minggu -korban manusia lebih sedikit.

Bencana alam raksasa juga senantiasa membawa perubahan sosial. Di Aceh, tanpa tsunami takkan ada perjanjian damai Helsinki. Perang akan terus berjalan. Tanpa tsunami, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kelompok Bugisnya takkan menemukan batu pijakan untuk berunding dengan Gerakan Acheh Merdeka. Tanpa tsunami, European Union tak punya alasan untuk menekan Jakarta agar berunding demi lancarnya bantuan kemanusiaan untuk Aceh.

Aceh adalah contoh yang sangat jelas. Sejarah juga menunjukkan bahwa gempa bumi senantiasa membawa perubahan sosial di berbagai kepulauan di Asia Tenggara ini.

Simon Winchester, geolog dari Universitas Oxford, menerangkan dalam bukunya, Krakatoa: The Day the World Exploded August 27, 1883, bahwa letusan Gunung Krakatau itu menciptakan kerusakan dahsyat pada kedua sisi Selat Sunda: Sumatra dan Jawa. Mayat ditemukan hingga di Zanzibar. Suara ledakan terdengar hingga India dan Australia.

Tapi yang paling penting -dalam jargon dunia politik hari ini-letusan gunung itu memicu sentimen anti-Barat di Pulau Jawa. Penderitaan para petani Jawa serta ketidakbecusan administrasi Hindia Belanda, dalam menangani bencana, menciptakan dendam di kalangan orang kecil.

Generasi Krakatau itulah yang menciptakan orang tua dari anak-anak yang memulai timbulnya "nasionalisme" di kalangan warga "pribumi" di Hindia Belanda. Pemimpin mereka termasuk Tan Malaka, Soekarno, Semaoen, Moh. Hatta dan sebagainya.

Bila ada gempa macam Krakatau, Jakarta sebagai pusat Negara Kesatuan Republik Indonesia praktis akan lumpuh. Terjadi kevakuman pemerintahan dan berbagai aktivitas lain yang selama ini terpusat di Jakarta.

Bambang Pranoto maupun Antonius Budiono tidak bisa menghitung secara rinci apa dampak sosial, politik atau ekonomi dari sebuah gempa besar di Jakarta. Tak seorang pun bisa. Tapi mereka merasa kuatir -sesuatu yang wajar-mengingat kualitas bangunan di metropolitan ini sangat rentan untuk menopang besarnya kekuasaan yang ada. ***


Republish by: Monx Digital Library

July 15, 2006

Biarpun Kering Air Mata

[#]
Kau hadir saat sembilu
Menggores dalam hatiku
Hilang...
Saat Kau s'lamatkanku

Sejuta ragu yang dulu
Merekat dalam hatiku
Sirna...
Saat Kau bersamaku

Kau briku pengharapan
Yang dahulu t'lah menghilang

Reff:
Dengan apakah kunyatakan
Rasa cintaku yang dalam
PadaMu o Tuhan
Biarpun kering air mata
Tak kan henti ku setia
Kekasih hidupku, selamanya...

Back to [#]



Taken From: Monx Digital Library