February 24, 2007

Herman Van Breen, Banjir Jakarta, dan Inlander Bodoh

Barusan dapet email yang berkaitan dengan banjir yang terjadi akhir-akhir ini di jakarta. Semoga dengan email ini dapat menyentuh hati nurani kita semua, khususnya pemda DKI, agar lebih peduli dengan lingkungan kita

Enjoy...

Tahukah anda, bahwa pada tahun 1918, Prof. Dr. Herman Van Breen ditugaskan oleh Departement Waterstaat pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan studi pencegahan banjir di Batavia. Akhirnya, Van Breen melahirkan sebuah konsep spektakuler dan visioner pada jaman itu yang dikenal dengan proyek Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur. Ide konsep itu sederhana, yaitu membatasi volume air yang masuk ke Batavia melalui 13 sungai, diantaranya Sungai Cakung,
Jati Kramat, Buaran, Sunter, Cipinang, Ciliwung, Cideng, Krukut, Grogol, Sekretaris, Pesanggrahan, Mookervart, dan Angke. Selanjutnya, limpahan debit air akan dibuang melalui sisi kiri dan kanan kota ke laut.

Pada tahun 1922, dimulailah pembangunan tahap pertama, yaitu Banjir Kanal Barat. Setelah Indonesia merdeka, Mimpi Herman Van Breen untuk melanjutkan pembangunan Banjir Kanal Timur sebagai tahap kedua untuk membebaskan Batavia dari banjir tidak pernah terwujud.

Proyek Banjir Kanal Timur baru disahkan dalam rencana Tata Kota DKI pada tahun 1973. Sekarang sudah 34 tahun Banjir Kanal Timur masuk rencana Tata Kota DKI, tetapi hanya 7 km dari 23 km dalam rencana Banjir Kanal Timur yang sudah digali.

Betapa visionernya rencana Van Breen, saat itu luas Batavia hanya 2.500 Ha, tetapi sudah membuat rencana penggalian Kanal Barat dan Timur sebesar itu.

Proyek Banjir Kanal Barat yang berhasil diwujudkannya telah menyelamatkan wilayah Batavia dari banjir selama 40 tahun. Sekarang wilayah Jakarta sudah seluas 65.000 Ha atau 26 kali Batavia, tetapi bukannya Banjir Kanal Timur diwujudkan, malah Banjir Kanal Barat tidak pernah dipelihara dengan baik dan diperluas.

Sutiyoso beralasan bahwa untuk mewujudkan Banjir Kanal Timur dibutuhkan dana yang sangat besar, yaitu sekitar 4,9 Trilyun dan Pemda DKI tidak mampu menyediakan dana sebesar itu. Tetapi tahukah anda bahwa proyek Busway 40 koridor menghabiskan dana 21 Trilyun dan harus diselesaikan selama dua tahun. Padahal busway yang direncanakan bukanlah jalur-jalur penting yang bisa mengalihkan pengendara mobil pribadi ke busway kecuali Koridor I yang melalui jalur Sudirman - Thamrin. Betapa bodohnya pemimpin bangsa ini.

Bila saja Herman Van Breen menyaksikan banjir yang menenggelamkan 2/3 Jakarta saat ini dan tidak pernah terwujudnya proyek Banjir Kanal Timur selama 89 tahun sejak dia cetuskan, pastilah dia akan menangis tersedu-sedu, "Betapa bodohnya inlander-inlander ini".

                            

August 17, 2006

[Resensi Buku] Ortu Kenapa, Sih ?

 
Judul: Teen World: Ortu Kenapa, Sih ?
Penulis: Blogfam (Lili Lengkana, Nunik Utami Ambarsari, Ryu Tri, Lafrania Taufik, Sylvia R. Agustini, Eben Ezer Siadari, Be Samiyono, Gat, Iwok, Ika Widyastuti, Koko P. Bhairawa, Irayani Queencyputri)
Penyunting Naskah: Benny Rhamdani
Penerbit: Penerbit Cinta
Cetakan: I, Juni 2006
Tebal: 154 hlm
Lomba Blogfam HUT Kemerdekaan RI ke 61


   
Seiring semakin canggihnya teknologi di masa kini, mengakibatkan penyebaran informasi yang serba cepat. Apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan akan norma-norma kehidupan yang benar, maka niscaya informasi yang diterima dapat menimbulkan efek negatip baik bagi si penerima informasi maupun orang-orang di sekelilingnya.


Berangkat dari pentingnya pemahaman akan hal tersebut diatas, beberapa member blogfam (sebuah komunitas blogger) bersama-sama menulis sebuah buku yang ditujukan bagi kaum remaja, mengingat di usia remaja yang sangat rentan terhadap segala informasi yang diterimanya. Apabila tidak dibekali akan pengetahuan norma kehidupan yang benar, niscaya semua informasi tersebut akan diterima mentah-mentah oleh remaja tersebut.


Dengan bahasa gaul dan mudah dimengerti, buku ini sangatlah cocok untuk para remaja dalam menyikapi segala sesuatu di dalam hubungannya dengan keluarga, khususnya dalam hal berkomunikasi dengan orang tua. Cerita pada setiap lembaran di buku ini adalah merupakan pengalaman pribadi dari para penulis sendiri, hal tersebut merupakan nilai plus tersendiri mengingat pengalaman adalah guru yang paling berharga dalam kehidupan.


Selain itu juga pada setiap bagian akhir cerita pada buku ini dilengkapi dengan quistioner ataupun tips-tips. Sehingga para pembaca akan semakin memahami intisari yang dimaksud oleh sang penulis pada cerita tersebut


Meskipun demikian, buku ini tidak selalu menawarkan solusi yang terbaik bagi kedua belah pihak, dikarenakan buku ini terkesan hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu dari pihak remaja, sehingga semua tips-tips ataupun quistioner seakan-akan hanya "meminta" agar para remaja untuk mengubah cara berkomunikasi mereka. Sedangkan untuk mencapai hasil yang terbaik dalam berkomunikasi, kedua belah pihak, orangtua dan remaja, diharapkan merubah cara berkomunikasi menjadi lebih banyak mendengar daripada berbicara (menuntut). Seperti pada cerita "Impian Ancur", dimana orang tua yang terlalu memaksakan kehendaknya sehingga secara tidak langsung mengorbankan masa depan anaknya sendiri. Mungkin buku ini konsumsi utamanya adalah remaja, akan tetapi tak ada salahnya apabila pada setiap akhir bagian cerita, diikutsertakan pula tips untuk para orangtua, siapa tahu banyak pula orang tua yang ikut membaca buku ini.


Terlepas dari kekurangan tersebut, buku ini juga sangatlah bagus untuk dibaca oleh orangtua, sehingga orangtua dapat lebih mengerti dan memahami apa maksud dari si anak, sehingga tidak ada lagi kisah-kisah "Impian Ancur" di masa depan.


Last but not least, selalu utamakan kesabaran dan kerendahan hati dalam berkomunikasi, meskipun memang hal tersebut merupakan sesuatu yang gampang untuk diucapkan, tetapi kadang-kadang sangat sulit untuk diterapkan


   

Written by: Monx Digital Library

July 20, 2006

Bila Gempa Menghantam Jakarta

Wednesday, July 19, 2006
Bila Gempa Menghantam Jakarta
Oleh Sapariah Saturi

Misalnya gempa 6 skala Richter menghantam Teluk Jakarta, bukan Teluk Sunda, kira-kira apa yang akan terjadi pada Jalan Sudirman dan Thamrin? Gedung mana retak, mana roboh? Apakah ada kebakaran? Kalau ibukota rusak, sarana komunikasi rusak, pemimpin bahkan ada yang mati, bagaimana kira-kira dampaknya pada ekonomi dan politik Indonesia?

Antonius Budiono termasuk sedikit orang di Jakarta yang berpikir soal skenario ini. Ia sadar berbagai gempa yang melanda Indonesia -dari Pulau Alor hingga Nabire di Papua, dari tsunami di Aceh hingga goyangnya Jogjakarta-membuat Jakarta harus diperhitungkan.

Perhitungan yang tak mudah ketika banyak sekali parameter yang tak bisa dihitung. Jangan-jangan gempa tak pernah bakal menerpa Teluk Jakarta ini?

Budiono seorang master manajemen konstruksi lulusan Universitas Washington, St. Louis. Ia baru-baru ini ikut menangani renovasi Istana Merdeka. "Banyak rahasianya," katanya, tertawa. Kalau digoogle, namanya selalu terkait dengan kebijakan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Budiono kini Direktur Tata Bangunan Direktorat Jendral Cipta Karya dari Departemen Pekerjaan Umum.

Sederhananya, menurut perhitungan Budiono, Indonesia dibagi dalam enam zona gempa. Tiap zona punya kategori sendiri yang terkait dengan percepatan bergesernya batuan dasar yang terkait dengan gravitasi bumi.

Jakarta termasuk zona tiga atau kategori menengah, sama dengan Jogjakarta. Daerah rawan empat terdekat Jakarta adalah Sukabumi yang terletak di atas patahan bumi Pulau Jawa.

Aceh, Pulau Nias dan Pulau Simeulue, Ujung Kulon dan Pantai Pangandaran termasuk zona enam atau kawasan paling rawan. Daerah sekitar Aceh inilah yang dihantam gempa 9 skala Richter pada 26 Desember 2004 dengan korban tsunami 126.000 jenasah dan 70.000 hilang. Hampir separuh kota Banda Aceh rata dengan tanah. Gempa serupa melanda pantai selatan Pulau Jawa pada 18 Juli 2006 dengan skala hampir 7 Richter dan korban hanya 80 orang lebih.

Di Jakarta, Budiono memperkirakan mayoritas bangunan, terutama gedung bertingkat sepanjang Sudirman dan Thamrin, sudah didesain sesuai apa yang disebut Standar Nasional Indonesia. "Jakarta pasti dicek gedungnya ... sepanjang gempanya zona tiga atau empat itu masih aman."

Pemerintah Jakarta juga memiliki beberapa tim untuk menilai izin pembangunan. Ada Tim Penasehat Arsitektur Kota, Tim Penasehat Konstruksi Bangunan dan Tim Ahli Utilitas Bangunan.

Agus Subardono dari Dinas Tata Kota Jakarta mengatakan, "Bayangkan saja, kalau di kantor bertingkat, gempa dan bangunan roboh, berapa kerugian? Bukan hanya material tapi sumber daya manusia yang akan hilang? Saya kira tidak ada yang mau mengambil risiko itu. Terlalu tinggi."

Sejak zaman Hindia Belanda, negeri ini sudah memiliki aturan bangunan tahan gempa. Terakhir pada 2002, parlemen Indonesia mengeluarkan UU Bangunan dan Gedung dimana diatur bahwa kantor dan rumah harus dibangun mengikuti ketentuan tahan gempa dan kebakaran.

Ajaibnya, tak semua aturan itu ditaati pemerintah kota-kota. Antonius Budiono mengatakan pada 1995-1998, dari 320 kabupaten di Indonesia hanya 220 yang mempunyai "perda bangunan" atau hanya 70%.

Dari 70% itu, yang aturannya mengatur persyaratan teknis, hanya 25% atau 55 kabupaten. Persyaratan teknis itupun lebih pada ketinggian bangunan atau tata ruang. Sedikit sekali yang mengatur gempa dan kebakaran.

Hitung saja berapa gedung pencakar langit di Jakarta yang memiliki helipad? Berapa gedung yang rutin bikin fire drill atau latihan kebakaran? Berapa organisasi yang setiap tahun bikin latihan lari dari gempa?

Bambang Pranoto dari Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi, sebuah organisasi nonpemerintah, mengatakan aturan memang ada namun tiada organisasi yang melakukan "sertifikasi" untuk menilai kelayakan bangunan. Disain bangunan mayoritas baik tapi pelaksanaan bangunan urusan lain lagi. Umur bangunan kebanyakan juga lebih pendek dari perkiraan disain.

"Konstruksi adalah proses produksi. Jadi tak bisa hanya dilihat dari kualitas perencanaan kekuatan terhadap beban atau pemakai . termasuk gempa," kata Bambang.

Ingat beberapa bulan lalu ketika tiang antena TV7 di daerah Kebon Jeruk roboh terkena hujan angin dan menewaskan tiga orang? Ternyata tower itu dibangun tanpa izin. Di Jakarta ada ribuan tower dibangun tanpa izin. Rancangan konstruksi tower TV7 terlalu kecil dan dekat pemukiman.

Atau ingat ketika jalan tol Cipularang amblas? Jalan tol sepanjang 40 km itu baru dioperasikan dalam hitungan bulan. Ia ambruk dan rusak berat pada 28 dan 29 November 2005 di beberapa tempat. Pada 29 Januari 2006, ia juga longsor dalam di daerah Lebak Ater. Padahal nilai investasi jalan itu Rp1,7 triliun.

"Itu belum ada gempa lho sudah runtuh!" kata Bambang Pranoto.

Banyak alasan diutarakan, dari menyalahkan tanah -demi Allah, birokrat dan politisi di Pulau Jawa ini bisa menyalahkan "tanah tidak stabil"-- sampai desain khusus yang belum dimiliki Departemen Pekerjaan Umum.

Kepala Balitbang Departemen Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono mengatakan, "Ini muncul karena tidak ada konsistensi dalam melaksanakan pekerjaan."

Di Jakarta, memang sulit mengukur dampak dari gempa akibat "inkonsistensi" pelaksanaan bangunan. Ini seharusnya jadi semacam wake up call sesudah gempa Jogjakarta dan tsunami Pangandaran.

Pada 27 Mei lalu, terjadi gempa 5,9 skala Richter di Samudera Hindia dengan jarak epicentrum 37 km dari Jogjakarta. Dalam hitungan menit, ia meratakan 140.000 bangunan dan rumah di sekitar Jogjakarta. Korban jiwa 6.234 serta luka 46.148 orang. Bangunan rusak mencapai 94.000. Padahal Jogjakarta sudah punya "perda bangunan."

Kalau epicentrum serupa muncul di Teluk Jakarta, ia mempengaruhi seluruh bangunan dari Ancol hingga Ciputat. Daerah-daerah padat, dan hampir seluruh Jakarta adalah daerah padat, bisa diperkirakan mengalami dampak terbesar bila konstruksi bangunan tidak punya atau tidak sesuai izin.

Bangunan-bangunan pencakar langit yang bertumpuk di Jakarta bisa runtuh. Kawasan sibuk macam Sudirman dan Thamrin akan jadi kacau bila gempa terjadi pada jam kerja. Begitu juga infrastruktur lain, seperti jalan layang juga jalan tol. Masih untung bila gempa terjadi pada hari Sabtu atau Minggu -korban manusia lebih sedikit.

Bencana alam raksasa juga senantiasa membawa perubahan sosial. Di Aceh, tanpa tsunami takkan ada perjanjian damai Helsinki. Perang akan terus berjalan. Tanpa tsunami, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan kelompok Bugisnya takkan menemukan batu pijakan untuk berunding dengan Gerakan Acheh Merdeka. Tanpa tsunami, European Union tak punya alasan untuk menekan Jakarta agar berunding demi lancarnya bantuan kemanusiaan untuk Aceh.

Aceh adalah contoh yang sangat jelas. Sejarah juga menunjukkan bahwa gempa bumi senantiasa membawa perubahan sosial di berbagai kepulauan di Asia Tenggara ini.

Simon Winchester, geolog dari Universitas Oxford, menerangkan dalam bukunya, Krakatoa: The Day the World Exploded August 27, 1883, bahwa letusan Gunung Krakatau itu menciptakan kerusakan dahsyat pada kedua sisi Selat Sunda: Sumatra dan Jawa. Mayat ditemukan hingga di Zanzibar. Suara ledakan terdengar hingga India dan Australia.

Tapi yang paling penting -dalam jargon dunia politik hari ini-letusan gunung itu memicu sentimen anti-Barat di Pulau Jawa. Penderitaan para petani Jawa serta ketidakbecusan administrasi Hindia Belanda, dalam menangani bencana, menciptakan dendam di kalangan orang kecil.

Generasi Krakatau itulah yang menciptakan orang tua dari anak-anak yang memulai timbulnya "nasionalisme" di kalangan warga "pribumi" di Hindia Belanda. Pemimpin mereka termasuk Tan Malaka, Soekarno, Semaoen, Moh. Hatta dan sebagainya.

Bila ada gempa macam Krakatau, Jakarta sebagai pusat Negara Kesatuan Republik Indonesia praktis akan lumpuh. Terjadi kevakuman pemerintahan dan berbagai aktivitas lain yang selama ini terpusat di Jakarta.

Bambang Pranoto maupun Antonius Budiono tidak bisa menghitung secara rinci apa dampak sosial, politik atau ekonomi dari sebuah gempa besar di Jakarta. Tak seorang pun bisa. Tapi mereka merasa kuatir -sesuatu yang wajar-mengingat kualitas bangunan di metropolitan ini sangat rentan untuk menopang besarnya kekuasaan yang ada. ***


Republish by: Monx Digital Library

June 02, 2006

Mengungkap "The Da Vinci Code"

Oleh Pdt Dr Ir Bambang Wijaya/ Ketua Umum Persekutuan Injili Indonesia

THE Da Vinci Code adalah salah satu novel terlaris dekade ini, sejak diterbitkan pada 2003, di seluruh dunia buku ini telah terjual lebih dari 40 juta copy! Bila jumlah tersebut didistribusikan di seluruh Indonesia, sama dengan setiap rumah tangga memiliki sebuah buku tersebut.

Buku ini tentu dapat berdampak pada pola pikir masyarakat. Dampak yang diharapkan secara jelas dituliskan pada sampul depan edisi bahasa Indonesianya, yaitu "memukau nalar, mengguncang iman!". Dampak yang dalam edisi bahasa Inggris tidak dicantumkan ini, dapat semakin besar dengan tayangan versi layar lebarnya, melalui film yang dibintangi Tom Hanks, aktor Hollywood yang sangat terkenal, dan diluncurkan serempak di seluruh dunia pada 19 Mei 2006 ini.


Hujatan terhadap Iman Kristiani
Buku ini memang diharapkan untuk mengguncang iman karena novel ini, edisi bahasa Indonesianya setebal 624 halaman, terang-terangan menghujat pokok-pokok iman Kristiani. Berikut adalah hujatan tersebut yang merupakan pandangan si penulis:
1. Yesus bukanlah Tuhan, melainkan manusia biasa. Kaisar Konstantin dari kerajaan Romawilah yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan, melalui konsili Nicea pada tahun 325 demi kepentingan politiknya.
2. Kitab Perjanjian Baru yang digunakan oleh orang Kristen saat ini adalah himpunan dari kitab-kitab yang disusun oleh Kaisar Konstantin melalui konsili Nicea. Sedangkan kitab-kitab suci yang benar, yaitu yang digunakan oleh para pengikut Yesus yang asli, justru dibakar berdasarkan putusan konsili tersebut sebab berisikan "kebenaran" yang sesungguhnya, yaitu bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa dan bukan Tuhan.
3. Yesus menikah dengan Maria Magdalena dan memiliki seorang putri. Maria terpaksa harus mengungsi ke Perancis, berlindung di antara masyarakat Yahudi dan melahirkan anaknya di sana. Hal ini antara lain dikarenakan rasul Petrus merasa cemburu sebab Maria Magdalena, sebagai seorang perempuan, telah dipilih oleh Yesus untuk menjadi kepala gereja.

Untuk mengemukakan hujatannya tersebut sang penulis dengan sangat licin telah memadukan:
1. Cerita-cerita khayalan, fiksi
2. Fakta-fakta sejarah
3. Data yang tidak akurat dan tafsiran yang melenceng terhadap beberapa fakta sejarah
4. Keyakinan teologisnya yang bersifat anti Kristen

Karena keempat hal tersebut dijalin rapi di dalam sebuah tulisan yang rancak dan dengan setting cerita thriller yang menarik, menegangkan serta penuh kejutan, maka dengan mudah orang terhanyut dalam alur cerita tanpa dapat membedakan fakta dan fiksi. Akibatnya bagi yang tidak paham sejarah gereja dengan mudah akan terperangkap ke dalam jerat keyakinan teologis sang penulis. Bahkan, orang dapat terbawa kepada ajaran sang penulis yang merupakan ajaran kafir, seperti memandang hubungan seks bebas sebagai sarana untuk berhubungan dengan Tuhan.


Ringkasan Plot Cerita
Buku ini diawali dengan pembunuhan terhadap Jacques Sauniere, kurator Museum Louvre, di Paris, oleh Silas seorang biarawan berkulit albino, demi mendapat rahasia batu kunci Priory of Sion, karena di situ termuat informasi tentang letak Cawan Kudus (Holy Grail), yaitu cawan yang digunakan oleh Yesus dalam perjamuan kudus terakhir bersama para murid-Nya. Sebelum meninggal Jacques Sauniere sempat memberi petunjuk sandi yang mengakibatkan Robert Landon, ahli ilmu simbol dari Universitas Harvard, ikut terlibat dalam kasus ini.

Robert Landon lalu bekerjasama dengan Sophie Neveu, ahli ilmu sandi pemerintah Prancis, yang juga cucu perempuan Jacques Sauniere. Dalam upaya ini, keduanya terus diburu oleh Kapten Bezu Fache, anggota reserse kriminal Prancis, dan Silas. Kapten Bezu ingin mengungkap kasus pembunuhan, sedangkan Silas ditugasi pemimpin Opus Dei, sebuah organisasi rahasia Gereja Katolik, demi menyelamatkan Gereja Katolik.

Di tengah cerita, Robert Landon dan Sophie Neveu berjumpa Sir Leigh Teabing, ilmuwan yang mendalami rahasia Cawan Kudus. Teabing memaparkan berbagai "rahasia gereja", di antaranya: Yesus hanyalah manusia biasa yang menikah dengan Maria Magdalena. Sehingga demi kepentingan politiknya Kaisar Romawi Konstantin menetapkan Yesus sebagai Tuhan melalui sebuah konsili (sidang gereja) di kota Nicea pada tahun 325. Dalam konsili tersebut diputuskan semua "kitab suci yang benar", yang menyatakan Yesus manusia biasa, dilarang dan dibakar. Sedangkan para "pengikut Yesus yang asli", yaitu mereka yang tak mempercayai ketuhanan Yesus ditetapkan sebagai kaum bidat, dan harus dimusnahkan.

Lebih jauh Teabing menjelaskan Leonardo da Vinci, yang adalah anggota serikat rahasia Priory of Sion, mengetahui rahasia pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena, sehingga tugas serikat ini menjaga rahasia itu. Namun Leonardo da Vinci membocorkannya melalui lukisannya yang sangat terkenal, The Last Supper (Perjamuan Malam yang Terakhir) yang melukiskan suasana perjamuan Paskah sebelum Yesus ditangkap. Lukisan tersebut menyembunyikan beberapa kode yang menunjukkan Maria Magdalena adalah istri Yesus.

Kode-kode tersebut diantaranya: tidak adanya gambar Cawan Suci pada lukisan tersebut. Orang yang duduk di sebelah kanan Yesus, sesungguhnya adalah gambar Maria Magdalena, bukan rasul Yohanes. Posisi tubuh Yesus dengan Maria Magdalena di dalam lukisan tersebut membentuk huruf V, supaya orang yang mencari-cari gambar Cawan Suci akan menangkap kode huruf V ini, mendapati sesungguhnya Maria Magdalenalah Sang Cawan Suci yang mereka cari.

Huruf V merupakan simbol dari cawan yang juga simbol seorang perempuan, dan Leonardo memakai Cawan Suci sebagai kode untuk memberitahukan Yesus menikah dengan orang yang duduk di sebelah kanan-Nya, yaitu Maria Magdalena. Lukisan itu juga ingin memberitahukan betapa bencinya rasul Petrus kepada Maria Magdalena, sebab Maria telah dipercaya Yesus untuk memimpin gereja. Di situ dilukiskan wajah Petrus penuh amarah dengan jari telunjuknya diarahkan ke leher Maria Magdalena.

Teabing juga menjelaskan Gereja Katolik telah berkonspirasi menutupi fakta Yesus hanya manusia biasa, dan Vatikan mengetahui kebohongan ajaran kalau Yesus adalah Tuhan. Rahasia ini dijaga demi mempertahankan kekuasaan gereja.

Kejutan di akhir cerita, terungkap bahwa ternyata Teabing-lah tokoh kunci dalang pencarian batu kunci Priory of Sion, dan bahwa Sophie Neveu adalah keturunan Maria Magdalena dari perkawinannya dengan Yesus.


Fakta dan Fiksi
Seperti yang saya kemukakan di atas, Dan Brown, menulis novelnya dengan sangat licin. Dia menjalin beberapa fakta dan fiksi, atau kisah khayal, sehingga orang awam yang tak paham sejarah gereja sulit membedakannya. Akibatnya pembaca buku tersebut dapat menganggap bagian-bagian fiksi sebagai fakta.
Pelbagai fakta yang disisipkan oleh Dan Brown dalam novel fiksi ini antara lain:
1. Detil ruangan Museum Louvre, tempat kisah ini dimulai, dan detil dari kapel Rosslyn di Skotlandia, yang dikisahkan sebagai tempat disimpannya cawan suci.
2. Penyelenggaraan Konsili Nicea atas permintaan Kaisar Konstantin, yang juga menetapkan bahwa para pengikut Arius yang tak mempercayai keilahian Yesus sebagai bidat.
3. Kedangkalan kekristenan Kaisar Konstantin, sehingga misalkan ia hanya mau dibaptis menjelang saat ajalnya, dan diserapnya beberapa praktik agama kafir ke dalam kehidupan gereja khususnya sejak Kaisar Konstantin mengeluarkan edik toleransi pada tahun 313. Edik toleransi ini memang pada satu sisi bersifat positif bagi orang Kristen karena penganiayaan terhadap mereka dihentikan, namun di sisi lain bersisi negatif sebab telah mengakibatkan gereja mengalami kemerosotan spiritual sehingga terjerumus ke dalam abad-abad kegelapan.
4. Sebagian dari detil lukisan The Last Supper, karya Leonardo Da Vinci yang terdapat pada dinding gereja Santa Maria delle Grazie di kota Milan, Italia.
5. Serikat Piory of Sion dan Opus Dei yang memang ada dalam lingkup Gereja Katolik. Hanya saja lembaga-lembaga tersebut didirikan bukan untuk melakukan kegiatan rahasia seperti yang ditulis Dan Brown.

Di luar fakta tersebut bagian yang lain dari buku tersebut hanyalah fiksi, khayalan Dan Brown. Data yang dikemukakannya tidak akurat, tafsirannya melenceng dari fakta sesungguhnya. Namun karena gaya penyajiannya sangat meyakinkan, maka pembaca yang tidak menggunakan nalarnya secara kritis akan menganggap itu semua fakta yang benar. Pembaca seperti ini akan mudah terperangkap dalam alur pikir Sophie, tokoh dalam novel ini, saat ia terpengaruh oleh ceramah Leigh Teabing, yang sesungguhnya adalah indoktrinasi dari Dan Brown.

Sebaliknya apabila ketidakakuratan dan tafsir yang melenceng tersebut diungkap, dan pada saat yang sama ditunnjukkan bagian fiksi novel tersebut, maka dengan mudah pembaca yang berpikiran jernih dan obyektif dapat menangkap kelicinan dan kesalahan pandangan Dan Brown, dan sekaligus akan melihat kebenaran pokok iman Kristiani.


Kebenaran Konsili Nicea?
Jauh sebelum Konsili Nicea, yang digelar pada tahun 325, gereja pada zaman para rasul atau gereja mula-mula telah mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan, dan ini selaras dengan ajaran Yesus Kristus tentang diri-Nya kepada para murid-Nya (lihat Injil Matius 16:13-20).

Beberapa bukti keyakinan gereja mula-mula ini dapat dilihat antara lain di dalam kitab Didache (ditulis sebelum tahun 100), yang pada intinya mengajarkan tentang praktika ibadah Kristiani dan dengan jelas menuliskan pokok iman Kristiani: Yesus adalah Tuhan. Contoh yang lain adalah tulisan-tulisan Yustinus Martir, bapa gereja dan apologet terkemuka pada awal abad kedua, yang dua abad sebelum Konsili Nicea telah menegaskan keilahian Yesus Kristus.

Bukti lain adalah ajaran Uskup Irenaeus, dari Lungdunum, tokoh yang sangat terpandang pada awal abad kedua, yang mengacu kepada tulisan dalam 1 Korintus 8:6, yang berbunyi: "Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang daripada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus."

Dengan kata lain, ajaran Yesus adalah Tuhan sama sekali bukanlah ide Kaisar Konstantin yang dalam agenda politiknya bermaksud menyatukan kaum kafir dengan pemeluk agama Kristen di negara Romawi, dengan mencampurkan ajaran kafir dan Kristen melalui Konsili Nicea.

Diakui dalam Konsili Nicea dirumuskan syahadat atau pengakuan iman Kristiani, namun isi pengakuan iman tersebut bukanlah pemasukan ajaran baru yang bersumber dari ajaran kafir ke dalam ajaran Kristiani. Kredo yang dirumuskan itu merupakan penegasan inti ajaran Kristiani yang sudah ada tiga abad sebelumnya. Penegasan ini dinilai perlu karena pada masa itu muncul ajaran baru yang dikembangkan oleh Arius, seorang teolog dari Aleksandria, Mesir, yang menyangkali keilahian Yesus.

Dan Brown melalui mulut tokoh yang ia ciptakan, Teabing, berkata bahwa di dalam Konsili Nicea telah diadakan pemungutan suara, untuk menentukan apakah Yesus adalah Tuhan atau manusia. Ia mengatakan bahwa voting tersebut menghasilkan suara yang hampir seimbang di antara pendukung dan penentang ajaran Yesus sebagai Tuhan. Dalam realita sejarah, saat dilakukan pemungutan suara, dari tiga ratus uskup yang hadir pada konsili tersebut hanya dua orang saja yang menentang rumusan Pengakuan Iman Nicea. Jadi sungguh jauh dari yang disebut oleh Dan Brown sebagai suara hampir seimbang! Padahal sebagian besar dari para uskup yang hadir berasal dari wilayah Timur, tempat Arius menyebarkan ajarannya.


Konstantin Penyusun Perjanjian Baru?
Dan Brown sangat benar saat ia menulis bahwa "Alkitab tidak datang dengan cara di faks dari surga." Sebab kekristenan tidak mengajarkan bahwa setiap kata dan kalimat di dalam Alkitab di dikte dari surga kepada para penulisnya. Tetapi Dan Brown sangat keliru saat mengatakan Konstantin-lah penyusun dan yang memilih kitab Injil mana yang boleh dimasukkan ke dalam Perjanjian Baru melalui Konsili Nicea. Menurut Brown, Konstantin telah memilih kitab-kitab yang membuat Yesus seakan adalah Tuhan, sedangkan semua kitab Injil yang berbicara tentang segala perilaku manusiawi Yesus dikumpulkan lalu dibakar.

Dan Brown keliru, karena ia menyembunyikan fakta sejarah bahwa sesungguhnya daftar yang baku, atau kanon, dari kitab-kitab Perjanjian Baru sudah tersusun dua abad sebelum Konsili Nicea. Salah satu kanon yang paling terkenal adalah kanon Muratorian yang disusun pada tahun 190. Disitu dicantumkan dua puluh sembilan kitab dan surat Perjanjian Baru, dua puluh tujuh kitab di antaranya sama persis dengan kanon Kitab Perjanjian Baru yang ada saat ini, dengan dua tambahan yaitu kitab Wahyu kepada Petrus dan kitab Hikmat Salomo. Pada masa berikutnya para bapa gereja mengeluarkan kedua kitab tersebut dari kanon Perjanjian Baru karena dipandang isinya tak setara dengan kitab-kitab kanonik. Kanon lain adalah tulisan Irenaeus pada awal abad kedua, yang mendaftarkan keempat Injil dalam Perjanjian Baru yang ada sekarang sebagai kitab suci.

Jadi, dalam Konsili Nicea tidak disusun kanon Perjanjian Baru, tetapi diperdebatkan keabsahan dari beberapa kitab yang ada di dalam kanon Perjanjian Baru, khususnya kitab Ibrani dan Wahyu. Alasan perdebatan tersebut karena pada kedua kitab tersebut tidak dicantumkan nama sang penulis secara eksplisit seperti pada kitab-kitab Perjanjian Baru lainnya. Bagi para pemimpin gereja di abad mula-mula kejelasan nama penulis kitab atau surat sangat menentukan demi memastikan kekokohan dari kanon.

Lebih lanjut Dan Brown mengatakan kumpulan kitab-kitab Injil yang sejati yang dicoba dimusnahkan oleh Kaisar Konstantin ada yang berhasil diselamatkan. Kumpulan tersebut ditemukan kembali di Gua Qumran dekat Laut Mati pada tahun 1950-an, yaitu Dead Sea Scrolls, dan gulungan kitab di Nag Hammadi pada tahun 1945. Memang benar di kedua tempat itu ditemukan gulungan-gulungan kitab tersebut, namun gulungan-gulungan tersebut bukan kitab Injil yang sejati!

Dead Sea Scrolls sama sekali tidak berisi sepotong pun kitab yang disebut sebagai Injil, sebaliknya berisi fragmen-fragmen dari kitab-kitab Perjanjian Lama yang isinya sangat persis dengan kitab Perjanjian Lama saat ini. Sehingga ia justru membuktikan keakuratan isi kitab Perjanjian Lama dalam Alkitab. Dalam Dead Sea Scrolls juga ditemukan catatan tentang aturan kehidupan kaum petapa Essenes, suatu kelompok agama Yahudi sebelum masa agama Kristen.

Sedangkan isi kitab-kitab di dalam gulungan Nag Hammadi sangat jauh untuk dapat dikatakan sebagai Injil yang sejati. Kitab-kitab tersebut disebut sebagai kitab Gnostik, yakni aliran kebatinan yang mulai muncul di gereja sejak awal abad kedua. Kitab-kitab dalam gulungan Nag Hammadi tersebut ditulis oleh pengikut aliran ini pada akhir abad kedua sampai dengan abad kelima, bukan pada zaman para rasul! Kitab-kitab tersebut berisi dongeng dan mitos khas kaum Gnostik, mutu etikanya kelewat rendah dan sangat bertentangan dengan doktrin Perjanjian Lama tentang pribadi Allah sebagai Pencipta Langit dan Bumi, sehingga oleh gereja mula-mula pun sama sekali tidak dipandang sebagai kitab yang suci.


Yesus Menikah?
Kesimpulan Dan Brown ini tanpa bukti ilmiah, sebab tak satu pun naskah pada zaman para rasul dan bapa-bapa gereja yang mencatat bahwa Yesus menikah. Namun, untuk mendukung pernyataannya Dan Brown menggunakan tiga "bukti." Namun bila diteliti tiga "bukti" itu dengan mudah terlihat sebagai kesimpulan yang gegabah.

"Bukti" pertamanya adalah lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci. Tanpa dasar jelas ia mengatakan gambar orang berwajah halus, yang mirip wanita, duduk di sebelah kanan Yesus di dalam lukisan tersebut adalah Maria Magdalena! Untuk membuktikan pendapatnya bahwa Yesus menikahi "Maria Magdalena" tersebut, Dan Brown menggunakan metode otak-atik gathuk, istilah bahasa Jawa yang berarti "diotak-atik supaya jadi cocok." Dia mengotak-atik detil di dalam lukisan tersebut sedemikian rupa supaya mendukung pernyataannya. Hanya saja ia tidak menyebutkan suatu fakta dalam dunia seni bahwa para pelukis abad pertengahan, yaitu zamannya Leonardo Da Vinci, seorang pria belia sering dilukis dengan wajah feminim. Hal yang sama dilakukan Leonardo Da Vinci saat melukiskan wajah Yohanes, murid Yesus Kristus yang termuda, dalam lukisan The Last Supper di atas.

"Bukti" kedua yang ia gunakan adalah pendapatnya bahwa dalam kepantasan sosial pada zaman Yesus Kristus, bahwa seorang lelaki Yahudi terlarang untuk tidak menikah. Menurut Brown, dalam adat Yahudi tidak menikah adalah hal terkutuk. Jelas pernyataan ini tidak berdasar, sebab merupakan fakta sejarah ada banyak pria Yahudi pada zaman itu yang menjadi nazir, yang karena alasan keyakinan keagamaan ada di antara mereka yang tidak menikah. Sebagai contoh adalah kaum Essenes yang menyimpan gulungan kitab Dead Sea Scrolls di atas. Di samping itu merupakan suatu fakta pula bahwa orang Yahudi sangat menghormati tokoh-tokoh di dalam Perjanjian Lama yang tidak menikah, seperti nabi Daniel, yang adalah seorang sida-sida Yahudi di negara Babilonia.

"Bukti" ketiga yang ia gunakan adalah Injil Philip yang menyebutkan bahwa Yesus mencintai Maria Magdalena lebih dari pada seluruh murid-Nya dan Yesus sering mencium Maria. Patut diketahui bahwa yang disebut sebagai Injil Philip sesungguhnya sama sekali bukan kitab Injil, melainkan sebuah kitab Gnostik yang ditulis sekitar pada abad ketiga. Kitab ini disebut sebagai Injil Philip bukan karena ia ditulis oleh Rasul Filipus, tetapi karena di dalam kitab Gnostik tersebut tidak disinggung nama rasul-rasul Tuhan Yesus yang lain, kecuali hanya nama Rasul Filipus. Dan Brown juga tidak menyebutkan bahwa Injil Philip yang ditemukan dalam gulungan Nag Hammadi tersebut tidak ditulis di dalam bahasa Yunani ataupun berlatar belakang bahasa Yunani sebagaimana layaknya kitab-kitab Perjanjian Baru, namun di dalam bahasa Koptik, yaitu bahasa Mesir dan dengan latar belakang bahasa Siria!


Kesimpulan
Sejak gereja berdiri dua ribu tahun yang lampau serangan terhadap pokok-pokok iman Kristiani tidak pernah berhenti. Serangan tersebut berasal dari kelompok bidat di dalam gereja sendiri, maupun dari orang-orang yang tidak mempercayai Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat manusia. Jadi, hujatan dalam buku The Da Vinci Code bukan hal baru. Hanya saja kali ini hujatan ini menjadi meluas karena ditunjang dengan sistem promosi dan pemasaran yang sangat canggih, yang mendatangkan keuntungan finansial luar biasa bagi pihak penulis dan penerbit buku ini. Di samping itu juga karena di wilayah-wilayah tertentu di dunia buku ini dipopulerkan oleh pribadi-pribadi yang tidak menginginkan terbangunnya kerukunan umat beragama di tengah masyarakat.

Mengapa orang Kristen tidak menanggapi hujatan di dalam buku The Da Vinci Code dengan amarah yang membabi-buta dan berbuat keonaran? Hal ini bukan karena mayoritas orang Kristen yang terdidik mengetahui bahwa Yesus memang seorang manusia yang karena manuver politik Konstantin telah dijadikan Tuhan, sehingga tidak mampu menjawab hujatan tersebut (seperti dikatakan Dan Brown di dalam bukunya). Justru sebaliknya, orang Kristen yang berpikir obyektif, kritis dan memahami metoda ilmiah yang masuk nalar serta mengetahui sejarah iman mereka, akan dapat melihat hujatan di dalam novel The Da Vinci Code tersebut bersifat fitnah murahan.

Di samping itu orang Kristen menghayati firman Tuhan bahwa "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:17-18). Perilaku kasih ini bukanlah tanda kelemahan, justru sebaliknya kemampuan untuk mengendalikan emosi secara dewasa merupakan bukti dari buah Roh (Galatia 5:22) di dalam kehidupan orang yang hidup di dalam anugerah Tuhan.

Di sisi yang lain, buku-buku seperti The Da Vinci Code harus membuat orang Kristen lebih giat lagi membaca dan mempelajari Alkitab, memahami pokok-pokok ajaran iman yang sehat, dan sejarah gereja dengan baik. Dengan demikian mereka akan dapat "menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman dan dalam ajaran sehat yang telah mereka ikuti selama ini." (1Timotius 4:6), serta mampu menjawab setiap hujatan tersebut sesuai dengan nasihat firman Tuhan: "Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu." (1Petrus 3:15-16). ***


Source:
The Truth About "The Da Vinci Code"

May 16, 2006

Hati-hati, modus penipuan baru

896 a/n Dr Syarifudin
Dear Boss2x semua,

ada penipuan gaya baru nih, kebetulan keluarga gw yang mengalami sendiri

kronologisnya begini:

Pada tanggal 15 Mei 2006, bapak saya menerima telepon yang mengaku dari petugas RSCM, dan mengatakan bahwa kakak saya mengalami kecelakaan parah, dan telah berada di RSCM. Akan tetapi, RSCM membutuhkan alat dan telah dipesan ke Apotek Kimia Farma RSCM. Untuk itu, bapak saya diminta untuk mentransfer dana sebesar 40 juta ke rekening 1250006152XXX di bank Mandiri, agar alat segera dikirim ke RSCM. Mungkin dari sini saja, kita sudah dapat memprediksikan bahwa ini penipuan, akan tetapi dikarenakan kepanikan yang melanda, semua logika telah hilang.

Diakhir pembicaraan, pelaku memberikan nomor telepon untuk meyakinkan keluarga saya, yaitu 081382151580 (yang disebutkan milik seorang dokter yang bekerja di Apotek Kimia Farma RSCM) dan 93013116 (yang disebutkan milik seorang dokter yang bekerja di UGD Lt. Dasar RSCM)

Setelah itu, bapak dan ibu saya mencoba untuk menelepon ke HP kakak saya, keluarga yang lain serta tempat kerja kakak saya. Akan tetapi, telepon tidak dapat digunakan, dikarenakan sama sekali tidak ada nada sambung. Kemungkinan telah 'dikerjai' oleh komplotan tersebut.

Dikarenakan kepanikan yang melanda, bapak saya mencoba menghubungi nomor telepon pelaku yang mengaku dokter di Apotek Kimia Farma RSCM tersebut melalui HP, agar alat yang dibutuhkan dapat segera dikirim ke RSCM, dan dana akan segera menyusul (dengan asumsi, mungkin dengan pendekatan dokter ke dokter, ada sedikit pertimbangan), akan tetapi pelaku tetap meminta dana tersebut ditransfer terlebih dahulu

Di lain kesempatan, ibu saya mencoba menelepon kakak saya melalui wartel yang ada di dekat rumah. Thanks God, telepon diangkat oleh kakak saya sendiri, dan ternyata masih sehat bugar.

so, buat boss2x semua, agar tetap selalu waspada
'n apabila membutuhkan info lebih lanjut, dsb, dapat melalui sini

'n untuk para pelaku, May God Have Mercy On Your Souls

thanks

May 01, 2006

BEBERAPA PASAL PERUBAHAN DALAM DRAFT RUU KETENAGAKERJAAN 2006







----- Original Message -----



BEBERAPA PASAL PERUBAHAN DALAM

DRAFT RUU KETENAGAKERJAAN 2006

NO

HAL

PENJELASAN

 

1

Tenaga Kerja Asing

Antara lain; adanya penghapusan Ps 45 UU 13/2003 mengenai larangan TKA menduduki jabatan yang mengurusi personalia dan atau jabatan2 tertentu

2

Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (outsourcing)

Antara lain; perubahan Ps 59 UU 13/2003 mengenai persyaratan jenis dan sifat / kegiatan pekerjaan yang akan selesai dalam waktu tertentu. Dalam draft: PKWT dapat dilakukan untuk semua jenis pekerjaan. Selain itu, dalam draft diusulkan bahwa masa kontrak PKWT bisa mencapai 5 (lima) tahun sekaligus

3

Batas usia anak bekerja

Diperbolehkan mempekerjakan anak di bawah usia 15 tahun dan berhak untuk menandatangani perjanjian kerja (dianggap cakap melakukan perbuatan hukum, khusus dalam hub kerja

4

Batasan maksimal jam kerja lembur

Kalau dalam UU 13/2000 diatur bahwa jam lembur per hari 3 jam dan 14 jam per minggu, dalam draft; lembur dapat dilakukan maksimal 14 jam per minggu (tidak dibatasi per hari)

5

 

Waktu Kerja

Dalam draft tidak diatur secara rinci ketentuan cuti panjang, namun diserahkan ke masing2 Perusahaan untuk diatur tersendiri dalam PKB

6

Upah Minum Regional/Propinsi

·      Dalam draft tidak mengakomodir istilah ”penghidupan yang layak” untuk penghasilan pekerja, namun diganti dengan ”....upah minimum sebagai jaring pengaman.”

·      Upah minimum memperhatikan kemampuan sektor usaha yang paling lemah/marginal

7

Struktur Upah

Upah di atas upah minimum, diatur dengan skala upah yang ditetapkan oleh Perusahaan.

8

Perjanjian Kerja Bersama / Peraturan Perusahaan bagi Perusahaan yang merger

·      Apabila terjadi merger, Peraturan Perusahaan (PP) masing2 Perusahaan masih berlaku sampai disahkannya PP yang baru

·      Batas waktu pembuatan PP yang baru; 6 bulan sejak tanggal terjadinya merger

9

Akibat mogok kerja tidak sah

Akibat hukum dari mogok kerja tidak sah ada 2 alternatif;

1.   PHK tanpa pesangon

2.   Dikategorikan mangkir dan yang mengakibatkan peruseahaan rugi, pekerja dapat dituntut ganti rugi

10

Pemberian upah bagi karyawan yang dikenakan Skorsing

Diberikan maksimal selama 6 bulan

11

Pesangon

Pekerja yang upahnya lebih besar dari 1 kali PTKP, tidak berhak mendapat pesangon – PTKP bagi karyawan tidak kawin: Rp 13.200.000,- atau Rp 1.1 jt/bulan, red –

12

Perubahan batasan masa kerja sebagai dasar perhitungan besarnya uang pesangon

1.   PESANGON

·   UU 13/2000; kurang dari 1 tahun: 1 bln upah (tidak ada minimal masa kerja). Dalam draft; min. 3 bulan baru bisa dapat pesangon: 1 bln upah

·   UU 13/2000; maks pesangon 8 bln upah utk kerja 7 thn. Draft; maks pesangon 7 bln upah utk kerja 6 thn.

 

2.   ”UANG JASA”

·   UU 13/2000; uang jasa diberikan dengan kelipatan masa kerja 3 thn; min. 2 bln upah, maks. 10 bln upah. Draft; kelipatan 5 thn; min. 2 bln upah, maks. 6 bln upah

 

3.   PENGGANTIAN HAK

·   UU 13/2000; diberikan penggantian perumahan serta pengobatan 15% dari uang pesangon dan atau ”uang jasa”. Draft; bagi yang mendapat fasilitas tunjangan perumahan: 10% dan yang mendapat fasilitas perawatan: 5% dari uang pesangon dan atau ”uang jasa”.

 

è Jadi bagi yang sblmnya tdk mendapat fasilitas tsb, tidak mendapat PENGGANTIAN HAK, red

13

Skorsing bagi karyawan yang melakukan kesealahan berat

Karyawan yg melakukan kesalahan berat, dpt diberikan skorsing, dan selama skorsing krn kesalahan berat tsb, tidak diberikan upah

14

Batas waktu maksimal untuk skorsing karena karyawan melanggar PKB

·      Dapat diberikan skorsing pembinaan paling lama 1 bulan

·      Ketentuan yg bisa dikenakan skorsing pembinaan diatur secara tegas dalam PP/PKB.

15

Prosentase upah karyawan skorsing

Selama menjalani skorsing pembinaan, pekerja hanya dibayar upahnya 50%

16

Besarnya Pesangon karena perusahaan melakukan efisiensi

Kalau dalam UU 13/2000 Ps 164 PHK dapat dilakukan krn perusahaan rugi terus-menerus selama 2 tahun (dibuktikan dengan audit) atau karena force majeur dan pesangon diberikan 2 kali ”PMTK”, dalam draft; ps ini ditafsirkan sebagai efisiensi (karena berakibat pd pengurangan pegawai), dan tidak perlu ada laporan audit. Pesangon yang diberikan 1 kali ”PMTK”

17

Jumlah maksimal pemberian pesangon

·      Pesangon ”2 kali PMTK” hanya diberikan kepada ahli waris pekerja yg meniggal dunia.

·      Pekerja pensiun tidak menerima pesangon

18

Karyawan yang pensiun tidak mendapatkan pesangon

 



 

 

HOT NEWS
KONTROVERSI DRAFT REVISI UU NO. 13/2003

Tentang Ketenagakerjaan                                            Draft Revisi

Pasal 35 ayat 3
Pemberi kerja wajib memberikan perlindungan yang mencakup               DIHAPUS
kesejahteraan, keselamatan, dan kesehatan baik mental maupun
fisik tenaga kerja

Pasal 46
Tenaga kerja asing dilarang menduduki jabatan yang mengurusi             DIHAPUS (TKA boleh jadi personalia)
personalia dan/atau jabatan-jabatan tertentu

Pasal 49
Ketentuan mengenai penggunaan tenaga kerja asing serta                       DIHAPUS
pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga kerja pendamping
diatur dengan Keputusan Presiden

Pasal 59
Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) hanya untuk beberapa            PKWT untuk semua jenis pekerjaan
jenis pekerjaan dan paling lama 3 tahun                                                     dan paling lama 5 tahun

Pasal 79 ayat 2d
Cuti besar/panjang diberikan kepada karyawan yang telah                        DIHAPUS
bekerja selama 6 tahun secara terus menerus pada perusahaan

yang sama pada tahun ke-7 dan ke-8 masing-masing 1 bulan

Pasal 156 ayat 1
Dala hal terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) pengusaha               PESANGON hanya akan diberikan untk
diwajibkan membayar pesangon dan atau uang penghargaan                  pekerja yang mempunyai upah dibawah
masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima              PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak).
                                                                                                                Besaran PTKP  Rp 1,1 juta / bulan

Pasal 156 ayat 2
Masa kerja maksimum yang mendapatkan pesangon (yang                    DIHAPUS - masa kerja maks yang
diatur) adalah 9 tahun                                                                             mendapatkan Pesangon adalah 6 tahun.
 




Posted by: Monx Digital Library


February 05, 2006

Di Mana Saja Dilarang Merokok?

Jakarta - Perda 2/2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara (PPU) resmi diterapkan 4 Februari 2006. Yang paling menonjol dari Perda ini adalah kawasan bebas rokok dan uji emisi kendaraan bermotor.

Namun rupanya, sebagian besar publik masih kebingungan soal dua item tersebut. Utamanya soal di tempat-tempat mana sih larangan merokok diberlakukan?

Menurut pasal 13 Perda 2/2005, ada lima areal publik yang dikategorikan bebas asap rokok. Artinya, tidak ada seorang pun boleh kebal-kebul di kawasan itu, baik di ruangannya atau pun di tempat terbukanya, misalnya di halaman atau lahan parkir.

Kelima tempat yang 100 persen harus steril dari asap rokok ini adalah:

1) Tempat belajar-mengajar (sekolah, kampus, pesantren, dsb)
2) Tempat pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, klinik, dsb)
3) Arena kegiatan anak
4) Tempat ibadah (masjid, musala, gereja, dsb)
5) Angkutan umum

Selain itu, ada dua areal publik yang diperkenankan merokok, namun harus di tempat khusus merokok yang disediakan pengelola areal publik itu. Kedua tempat itu adalah:

1) Tempat kerja (kantor swasta/pemerintah)
2) Tempat umum (mal, restoran, hotel dsb)

Prinsipnya, di tempat publik yang merupakan ruangan tertutup dilarang keras merokok sembarangan. Sedangkan di tempat publik yang terbuka, masih diperbolehkan merokok. Misalnya saja di halte, jembatan penyeberangan atau pun di terminal.

Namun jika haltenya seperti halte busway, ya tentu saja dilarang, soalnya halte busway bangunannya tertutup.

Mereka yang melanggar ketentuan tersebut akan dikenai sanksi, mulai dari teguran, hingga dibawa ke aparat yang berwenang dengan ancaman bui maksimal 6 bulan dan denda maksimal Rp 50 juta. (nrl)

source: http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/02/tgl/06/time/125755/idnews/533222/idkanal/10

January 05, 2006

Bayar Pajak, Uji Emisi Dulu!

Mulai Februari 2006, seluruh kendaraan bermotor di Jakarta wajib menjalani uji emisi atau gas buang kendaraan. Tanda bukti lulus uji emisi menjadi salah satu persyaratan dalam pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB) atau saat memperpanjang surat tanda nomor kendaraan (STNK).

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Kosasih Wirahadikusumah mengungkapkan hal itu kepada Warta Kota, Rabu (4/1). Ia menyatakan, seluruh kendaraan bermotor --baik mobil maupun sepeda motor-- yang pembayaran pajaknya jatuh tempo setelah 4 Februari wajib menunjukkan bukti lulus uji emisi saat memperpanjang STNK.

"Perda dan SK gubernurnya ditandatangani 4 Februari 2005 dengan masa sosialisasi setahun. Jadi mulai Februari 2006 ini (peraturan itu) sudah berlaku efektif. Sampai sekarang kami masih intensifkan sosialisasi menjelang pemberlakuan aturan tersebut," tuturnya.

Kosasih menjelaskan, Perda Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara di DKI Jakarta mewajibkan seluruh kendaraan bermotor pribadi maupun angkutan umum melaksanakan uji emisi. Hal itu dimaksudkan agar pemilik kendaraan mengetahui persis kondisi gas buang kendaraan dan kesesuaiannya dengan baku mutu emisi. Kadar polutan yang diperiksa adalah karbonmonoksida (CO) dan hidorkarbon (HO) dengan ambang batas tidak boleh lebih dari tiga persen.

Uji emisi dapat dilakukan di bengkel-bengkel yang sudah mendapat sertifikasi sebagai penyedia jasa uji emisi. Hingga kini sudah ada 80 bengkel yang menyediakan layanan itu dan lokasinya tersebar di lima wilayah Jakarta. Jumlah operator sebanyak 239 orang.

Menurut pengamatan Warta Kota, Dinas Perhubungan DKI sudah memasang rambu khusus bertanda bengkel uji emisi di sejumlah titik. Di Jalan Kebayoran Lama, misalnya, tanda tersebut terpasang di pinggir jalan sekitar 50 meter menjelang bengkel yang ada dekat persimpangan Jalan Rawa Belong. Untuk angkutan umum dan niaga, uji emisi dapat dilakukan pada saat uji berkala atau kir setiap enam bulan sekali.

Kosasih menyatakan, jumlah bengkel yang melayani uji emisi akan terus ditingkatkan menjadi 200 unit dengan tenaga operator sekitar 600 orang. Itu untuk melayani sebanyak 6,5 juta kendaraan bermotor yang beroperasi di Jakarta. Dari jumlah tersebut, rinciannya 1,6 juta adalah mobil penumpang, 488.517 unit mobil barang, 316.396 bus, dan 4,05 juta motor. Semua kendaraan bermotor tersebut wajib menjalani uji emisi dua kali dalam setahun.

Namun, dengan adanya kendala teknis di lapangan, pada tahap awal ketentuan uji emisi itu diberlakukan sekali dalam setahun. Karena itu, dalam perpanjangan STNK tanda bukti yang dilampirkan cukup satu lembar.

Dua lembar

Menurut Kosasih, tanda bukti uji emisi terdiri dari dua lembar yaitu berupa print out dari mesin uji emisi yang ada di bengkel dan stiker bertuliskan "lulus uji emisi". Print out memuat hasil pemeriksaan atau kandungan zat dalam gas buang. Kedua tanda bukti tersebut dilengkapi hologram sehingga sulit dipalsukan. Namun, Kosasih mengakui pihaknya belum memiliki sistem kontrol yang kuat untuk mengantisipasi pemalsuan tanda lulus uji emisi.

Pengujian emisi sebenarnya bukan hal sing bagi pemilik kendaraan karena selama ini mobil dibawa ke bengkel secara rutin untuk tune-up. Apalagi sudah ada SK Gubernur Nomor 95 Tahun 2000 tentang Kewajiban Uji Emisi bagi Mobil di DKI. SK tersebut mewajibkan uji emisi sekurangnya sekali dalam setahun.

Khusus untuks sepeda motor bermesin 2-Tak masih ada pembahasan mengenai baku mutu yang dijadikan patokan. Dalam uji emisi yang diadakan BPLHD DKI sebelum mudik 2005, hanya satu sepeda motor 2-Tak yang lulus uji emisi.

Info Penting Uji Emisi
* Dasar hukum : Perda Nomor 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara di DKI dan SK Gubernur Nomor 95 Tahun 2000 tentang Uji Emisi bagi Mobil.
* Uji emisi berlaku untuk semua kendaraan bermotor tanpa kecuali.
* Uji emisi wajib dilakukan setiap enam bulan sekali. Tahap awal setahun sekali.
* Uji emisi di bengkel-bengkel bertanda khusus.
- Tarif jasa uji emisi diserahkan pada mekanisme pasar, namun maksimal
Rp 50.000 sekali periksa.
* BLHD telah uji emisi 11.000 mobil dan motor

December 26, 2005

Gizi Generasi Televisi ...

Jakarta, Rabu
SAYA terenyak ketika sopir taksi yang saya tumpangi mengeluh. Uang dua puluh ribu rupiah yang dibawanya pulang habis dalam sehari untuk jajanan kedua anaknya yang masih di bangku SD.

Lebih mencengangkan lagi ketika ia menyebutkan berbagai merek jenis makanan kemasan yang menjadi favorit anak-anak itu. Mereka sudah tidak pernah mau menyentuh sayur kecuali dipaksa dan diancam. Aneka rasa makanan dalam aneka kemasan menawan merambah warung-warung kecil. Paha ayam dan irisan sayur hijau-cukup berupa gambar pada bungkusnya-serta pernyataan "diperkaya oleh mineral dan zat gizi" ampuh mendongkrak nilai jual. Padahal, kompleksitas kebutuhan gizi manusia jelas melampaui angka yang tertera. Pernah, seorang artis cilik dalam iklan televisi menepis buah jeruk asli demi dagangan terbarunya: serbuk minuman artifisial beraroma jeruk.

Masalah busung lapar pertama-tama adalah masalah ketidakadilan ekonomi. Situasi ini diperparah dengan terpesonanya pemerintah oleh investasi pelbagai produk industri pangan. Bukan hanya abai terhadap tanggung jawabnya menyediakan pangan bersubsidi bagi kaum miskin dan memberikan pendidikan pangan yang adil serta mendasar (baca: bebas kepentingan investasi produk industri pangan), pemerintah juga tidak lagi mencermati hasil-hasil penelitian tentang korelasi produk teknologi pangan dan dampaknya di kemudian hari.

Kenyang semu
.Saat ini pemenuhan kebutuhan gizi manusia sehat bersumber dari alam tergilas keberingasan investasi industri pangan. Pasar banjir oleh refined foods dengan segala risikonya, termasuk meningkatkan penyakit kardiovaskuler, menekan daya kekebalan tubuh, mencetuskan reaksi peradangan tersembunyi dan rasa sakit kronis. Sudah bertahun-tahun Barry Sears-pakar biokimia dan nutrisi-menjadi musuh bebuyutan industri pangan Amerika Serikat karena pemaparannya. Dengan minimnya pengetahuan tentang makanan sehat, bagaimana masyarakat dapat membuat pilihan bijak?

Terpesona akan tayangan iklan makanan, bangsa yang kini lebih mahir menonton televisi ketimbang membaca menjadi ladang subur bagi tumbuhnya "makanan dagang". Seorang ibu akan merasa lebih berdosa bila tak mampu membeli susu dan biskuit anjuran iklan ketimbang memberi dua potong tempe dan sepiring sayur bayam yang bisa dikonsumsi tiga kali sehari. Pernah seorang ibu miskin bersikukuh memberikan susu kaleng kepada anak balitanya. Jadilah satu sendok teh bubuk susu terlarut dalam dua
ratus cc botol bayi!

Tidak ada kebijakan dan intervensi pemerintah saat ini yang sanggup membendung komersialisasi pangan menyesatkan, bahkan pantas dituding sebagai salah satu penyebab malnutrisi. Minimnya informasi mengenai sumber pangan sehat yang terjangkau semua lapisan jelas mencerminkan
kekalahan food for health dalam perang melawan food for commerce yang tengah mengambil korban rakyat jelata.

Malnutrisi tidak lagi melanda mereka yang sungguh-sungguh miskin, tetapi juga yang miskin pengetahuan kesehatan sebenarnya, yang sirna oleh simulacra kecanggihan sains. Kita sibuk mencari virus baru atau mutasinya sebagai penyebab penyakit yang tiba-tiba mencuat menjadi perhatian massa.

Mengapa tidak mencermati pertanyaan ini: Bagaimana daya tahan tubuh manusia diserang?

Bukan suatu kebetulan bahwa dalam rentetan penyakit virus-sebutlah SARS, flu burung, demam berdarah dengue, polio-ujungnya mendapat gong besar: busung lapar. Daya tahan kekebalan tubuh menderita secara kronis hingga anjlok ke titik paling rendah-dan saat itu serangan penyakit mendera.

Sirnanya keprofesian
.Kita berada di puncak kejenuhan antara keserakahan dalam bentuk komersialisasi dan tuntutan alam yang senantiasa menghendaki kesetimbangan serta harmoni. Simulacra menggiurkan tengah "mengenyangkan" perut bangsa ini, dari lapisan massa yang "kurang berpendidikan" hingga mereka yang berprofesi pemberi jasa pelayanan masyarakat.

Berbagai masalah kesehatan tidak lagi ditangani melalui cara berpikir rasional yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemenuhan prosedur menjadi jauh lebih utama. Padahal, begitu banyak prosedur masih bertabrakan dengan berbagai kepentingan. Wajar jika seorang ibu perlu membawa pulang bayinya yang busung lapar dari rumah sakit hingga mati di rumah karena biaya rumah sakit sudah tak tertanggungkan. Rumah sakit dalam hal ini selalu tampak "benar".

Mereka punya surat sakti: tanda tangan pasien menolak rawat atau "pulang paksa". Apa pun alasannya. Sistem pelayanan kesehatan dan pemerintah pun terbebas dari tanggung jawab moral.

Kepentingan komersial meluluhlantakkan aspek moral dan pelayanan yang bersifat lege artis (sesuai dengan keprofesian). Privatisasi Rumah Sakit Umum Daerah adalah fenomena terpentalnya pemerintah
sebagai penyelenggara public service dalam kinerja infrastruktur, untuk lalu terperangkap dalam laissez faire. Horornya: privatisasi dianggap dengan sendirinya "meningkatkan kualitas". Caranya, biarkan
rumah sakit saling bersaing termasuk menjejalinya dengan alat kesehatan berteknologi canggih yang mengakibatkan biaya pelayanan melonjak. Ke mana akan pergi si miskin busung lapar?

Samsi Jacobalis, mantan Ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, pernah mengatakan, sains makin didominasi teknologi, sedangkan teknologi makin didominasi motivasi mencari laba. Artinya,
sains dan teknologi cenderung menjadi alat kekuasaan bisnis global. Adakalanya teknologi canggih digunakan bukan atas indikasi medik yang mutlak, melainkan demi pengembalian modal investasi alias
kredit bank yang dpergunakan membeli alat itu.

Dalam "RS Indonesia Tak Siap Bersaing" (Kompas, 22/12/2004) tersingkap lebar testimoni memalukan. Nyawa manusia dipertaruhkan demi kepentingan-kepentingan yang sulit diterangkan.

Kriminalitas komersialisasi
.Menangani busung lapar secara terpadu adalah satu hal. Tetapi tanpa keseriusan pendidikan yang adil tentang pangan sehat plus murah, terutama tanpa ketegasan pemerintah menangani komersialisasi pangan, ancaman malnutrisi tidak berhenti.

Pemberdayaan masyarakat agar mampu menentukan dengan bijak kelangsungan hidupnya adalah kewajiban pemerintah yang tak bisa dielakkan. Bukan hanya menggratiskan biaya perawatan. Jika sehat, masyarakat tidak perlu rumah sakit. Tentu saja ini mengandaikan media bersedia mendidik ulang selera pasar dan gaya hidup. Sumber protein bayi yang terbaik bukan biskuit dengan kemasan
bergambar bayi montok kebule-bulean. Makanan instan yang didistribusikan saat bencana alam bukan dewa penolong modern ketimbang dapur umum zaman lauk tempe dan sayur asem. Bangsa ini
memang sedang diracuni komersialisasi teknologi pangan. Hedonisme rasa membungkam ratapan tubuh yang haus makanan sehat.

Komersialisasi di era global adalah soal biasa. Tetapi ketika melibatkan jenis pangan dan pelayanan kesehatan paling dasar, apalagi menyangkut hidup mati orang, komersialisasi adalah sebuah
kriminalitas.
* Oleh: Tan Shot Yen Seorang Dokter, Peserta Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta
Rabu, 15 Juni 2005, 07:29 WIB

http://www.kompas.com/kesehatan/news/0506/15/073107.htm

October 25, 2005

Maling Pulsa Telepon

Forward dari milis:

Pada tanggal 2 - 4 September 2005, kami sedang ada
acara retret di Puncak, kami meminta bantuan untuk menjaga rumah kami dengan
keponakan-keponakan kami pada tanggal 3 September 2005 ada telpon dari
seseorang bernama ibu Puri dan mengaku dari PT. Telkom dan mengatakan
bahwa telpon kami disadap atau disuntik dan disuruh memencet tombol telpon
0809 100 3535 4 dan memerintahkan untuk ditaruh gagang telpon diluar
pesawat telpon sampai dia menginformasikan gagang telpon itu ditaruh ke
pesawat telpon pada +/- pukul 21.30 baru keponakan kami menaruh gagang telponnya
kemudian pada esok harinya di menelpon kembali pada +/- pukul 9.00 dan
memerintahkan kembali untuk memencet tombol itu kembali dengan hal yang
sama sampai pukul 20.00
Setelah kami kembali pulang dari retret di Puncak baru kami coba untuk
menghubungi Telkom ternyata bahwa tidak ada ganguan ditelpon kami dan
setalah itu kami menaruh gagang telpon ditempatnya dan orang yang bernama
Ibu Puri itu menelpon dan menanyakan kenapa ditaruh telponnya ? Kami
menjawab bahwa kami sudah menhubungi Telkom dan dia langsung mematikannya
dan sekitar kira kira 5 menit dia menghubungi kami kembali bahwa kami
didenda 5 juta rupiah karena tidak mengikuti perintahnya oleh sebab itu kami
langsung menantang dia kalau mau ambil uangnya silakan datang ambil dirumah
kami akan tetapi orang tersebut tidak datang-datang dan kami sudah curiga
bahwa ini adalah maling Pulsa telpon.

Kami suadah mengecek ke Telkom bahwa tagihan kami
dalam waktu 2 hari adalah minimum sebesar + / - 7 Juta.

Ke esok harinya kami mengurus ke PT. Telkom, dan
petugas disana mengatakan bahwa itu adalah penipuan Pulsa dan kami
mencoba juga ke Kepolisian untuk melaporkan hal ini agar dapat
diusut dan tidak terulang dengan kejadian yang sama seperti ini ternyata
dikatakan tidak bisa karena kami kenapa memencet tombol telpon tersebut.

Maka dengan kejadian seperti ini mohon disebar-luaskan karena No telpon 0809
100 3535 4 adalah PREMIUM CALL dan No telpon ini adalah PENIPU, jadi agar
diabaikan jika ada orang yang telpon seperti pengalaman kami ini.

PERLU KAMI GARIS BAWAHI BAHWA DENGAN NO AWAL 0809
XXX XX XX X ADALAH PREMIUM CALL YANG PULSANYA BISA MEMBENGKAK.

MOHON DSEBAR LUASKAN AGAR RAKYAT KECIL TIDAK TERTIPU
DENGAN ADANYA KEJADIAN SEPERTI INI SAYA YAKIN BUKAN SAYA SAJA YANG KENA SEPERTI INI.

October 10, 2005

Program udara bersih

Rekan sekalian,

Perbaikan kualitas angkutan umum adalah tugas kita semua. Tapi bagaimana cara kita untuk ikut serta mengawasi kinerja angkutan umum?

Jika perduli dengan lingkungan, dan tidak mau ada asap tebal ngebul lagi dari angkutan kota, kirim sms ke nomor

0817 - 66 - 0000 – 1 (Tariff biasa Rp. 350/sms )

Caranya: tulis asap (spasi) jenis angkutan umum (spasi) nomor polisi

contoh: asap metromini B1000XY

SMS yang Anda kirimkan akan sangat berguna buat mengawasi ngontrol pencemaran lingkungan dari angkutan umum, dan hasilnya akan dikumpulkan dan disampaikan ke Dinas Perhubungan Prop. DKI Jakarta, Dewan Transportasi Kota Jakarta, Dinas/instansi terkait biar mereka segera ambil tindakan dan

Juga akan dikirim ke media untuk dipublikasikan secara berkala

Jenis angkutan:

PPD
Mayasari
Metromini
Kopaja
taxi
bajaj
dsb

Ayo , kirim SMS ke 0817-660-000-1 biar angkot kita bebas dari asap karena SMS Anda merupakan bentuk kontribusi dalam meningkatkan kinerja angkutan umum di Jakarta

PS: Mohon dapat disebarkan ke rekan-rekan lainnya. Terima kasih.

Veronica Ponda

Clean Air Project, Swisscontact

Jln. Wijaya XII No. 44

Jakarta 12160 - IND

P: 62 21 7394031

F: 62 21 7223037

W: swisscontact.org

swisscontact.or.id

September 01, 2005

Akibat Mental yang Terjajah

Oleh Kwik Kian Gie*
Buat orang yang dapat membaca statistik dan dapat menafsirkannya, akan melemahnya rupiah sudah cukup lama di depan mata. Buat orang yang selalu gemar mengingat sesuatu yang pernah terjadi, merosotnya nilai rupiah juga bisa diprediksi. Bahwa rupiah bisa merosot sangat tajam dalam waktu sangat singkat juga pernah kita alami, yaitu ketika rupiah merosot dari sekitar Rp 2.300 menjadi Rp 16.000 per dolar AS (USD).

Maka, kalau sekarang nilai rupiah dalam waktu singkat merosot dari Rp 9.000 menjadi 11.500 ketika artikel ini ditulis, dan karena itu pemerintah cemas dan bingung, saya menjadi heran.

Mari kita bahas satu per satu. Pertama tentang apa yang dinamakan fundamental ekonomi, tetapi saya batasi pada yang relevan saja untuk nilai tukar rupiah. Kekuatan bangsa Indonesia sendiri dalam hal mempertahankan stabilitas nilai rupiahnya dilandasi oleh apakah mempunyai cadangan devisa yang cukup dan berkesinambungan. Devisa dibentuk oleh ekspor yang lebih besar daripada impor, baik barang maupun jasa. Ekspor selalu lebih kecil daripada impor kecuali tiga kali saja, yaitu di tahun-tahun 1973, 1979, dan 1980 yang disebabkan oleh oil shock pertama dan kedua.

Jadi, kalau atas dasar kekuatan sendiri, cadangan devisa selalu menyusut. Tetapi ditolong oleh masuknya modal dalam bentuk utang, dalam bentuk masuknya modal asing partikelir yang ditanamkan di Indonesia dalam berbagai bentuk. Ini untuk periode tahun 1969 sampai tahun 1999 (dua tahun terakhir prediksi Bank Dunia). Kita tahu bahwa sebelum tahun 1999, moneter sudah jebol sama sekali, sampai rentang kendali dinaikkan delapan kali, lantas dilepas secara tidak bertanggung jawab dan rupiah melejit sampai Rp 16.000 per dolar AS.

Bagaimana yang sekarang? Bukankah stabil cukup lama? Ya, lebih dari itu, setelah krisis, ekspor lebih besar daripada impor. Yang namanya transaksi berjalan surplus. Hanya surplusnya tidak disebabkan oleh kuatnya ekonomi kita, tetapi oleh anjloknya impor karena tidak ada kegiatan ekonomi yang berarti.

Ketika ekonomi mulai menggeliat, karena memang dasarnya keropos, ya langsung saja transaksi berjalan yang positif menjadi menciut. Kecuali itu, kalau dahulu ada modal masuk yang mengimbangi minusnya impor yang lebih besar daripada ekspor, sekarang terjadi pelarian modal. Bahasa birokrasinya error and omission. Kecuali di tahun 2001 yang hanya USD 714 juta, angkanya selalu minus yang berarti ada capital flight. Ketika transaksi berjalannya sudah menciut dan kecenderungannya minus lagi, modal yang ada justru dilarikan ke luar negeri oleh pemiliknya.

Jadi, kita tidak perlu heran tentang apa yang sekarang terjadi. Yang harus diherankan ialah mengapa kebijakan ekonomi yang begitu lama dalam alam kemerdekaan menghasilkan malapetaka (disaster) yang begitu hebat? Untuk itu, ada ceriteranya tersendiri. Apa itu?

Kecuali selama Gus Dur menjabat presiden RI, tim ekonomi dalam kabinet selalu dikuasai oleh para ekonom yang mutlak menghamba kepada kartel IMF dengan resep-resep dan instruksi-instruksi kepada para kroni ini yang merusak. Mereka itu terkenal dengan nama Berkeley Mafia yang dibanggakan oleh diri sendiri.

Kebijakan yang sangat merusak itu adalah menggerojokkan utang luar negeri terus-menerus sampai tidak kuat bayar tepat waktu supaya selalu menjadi pengemis buat penundaan pembayaran. Ketika itu, pemerintah Indonesia harus dicekik lehernya untuk didikte. Yang mengatakan ini bukan saya, tetapi orang-orang asing, kebanyakan orang-orang Amerika, yaitu John Pilger, Brad Sampson, Jeffrey Winters, dan John Perkins yang mengaku disuruh merusak ekonomi Indonesia. Caranya digambarkan dengan sangat jelas di dalam bukunya yang berjudul The confessions of an economic hit man.

Setelah menjelaskan ini, pertanyaannya adalah terus apa yang harus dilakukan? Buat saya, Presiden SBY harus mengambil alih kepemimpinan sepenuhnya dalam bidang ekonomi. Kedua, mengganti menteri-menteri ekonomi dengan orang-orang yang mentalnya pemimpin untuk bangsanya, bukan hamba untuk kepentingan asing. Ke