August 17, 2008

Only 5 Minutes

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. "Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga."Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,"sambungnya, memperkenalkan.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. "Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?" Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata, "Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa...?" Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya.

More...

                            

August 10, 2008

Ayah Juga Lupa

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan, ayah!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

More...

July 24, 2006

Jadilah Pelita

Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok."

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu.

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" Si buta tertegun.. Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing.

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." Senyap sejenak. secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan.

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka."

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!).

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf.

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat.

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu.

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana.

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan.


Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita.

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi.

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.


Part of Wise Word Collections

July 13, 2006

Serangga Yang Terjebak

Seekor serangga terbang, entah itu lalat, kupu-kupu, laron, capung atau yang lainnya, sering kali terlihat terjebak berpusing di balik dinding kaca. Dia berusaha membebaskan diri untuk keluar dari ruang tertutup yang melingkunginya menuju tempat terbuka yang bebas dan terang benderang.

Berkali-kali kepala dan tubuhnya dibawa terbang melampaui hamparan kaca yang jernih. Berkali-kali itu pula ia terbentur sekat yang meskipun tiada terlihat tetapi kokoh dan tak bergeming sedikitpun. Kadang ia berhenti sejenak seperti sedang menghimpun tenaga baru untuk kemudian terus mencoba dan mencoba lagi.

Kalau Tuhan berkehendak menolongnya ia akan menemukan jalan bagaimana meloloskan diri atau melalui tangan manusia yang membantunya melampaui dinding kaca itu. Kalau tidak ia akan berkisar turun naik di sekitar tempat itu sampai maut menjemputnya. Ketika badannya tak lagi bergerak Tuhan pun berkenan menggerakkan kawanan semut, serangga jenis yang lain, untuk membawanya pergi dari situ atau dikerubuti hingga tinggal sayap dan bagian tubuh yang lain yang tidak disantap semut.

Yang mungkin bisa kita amati dari kejadian itu adalah sebagai berikut:

1. Dalam kehidupan ini kita sering terjebak situasi seperti dialami serangga tadi, berputar pada suatu persoalan yang bahkan kita tidak dapat mengidentifikasinya dengan jelas namun kita sadari keberadaannya. Serangga tadi tidak memiliki pengetahuan benda apa yang menghijabnya dari dunia yang ditujunya. Kitapun sering kekurangan pengetahuan atau mungkin tidak tahu sama sekali persoalan yang sedang dihadapi maka kita tidak akan pernah memecahkannya dengan tuntas. Tahu-tahu waktu sudah habis, umur sudah tuntas, tak ada lagi yang tersisa...

2. Untuk memecahkan masalah dengan efektif kita memerlukan pengetahuan tentang hakikat masalahnya. Informasi tentang hakikat atau substansi suatu masalah bisa diperoleh dari berbagai sumber bahkan pada pokok masalah itu sendiri. Namun ada saatnya semua sumber yang kita kenal tidak menyediakan informasi yang kita inginkan. Saat itulah kita memerlukan sumber dari segala sumber informasi dan pengetahuan yaitu TUHAN. Kita memerlukanNYA untuk keluar dari pusingan atau kemelut persoalan yang tiada kunjung selesai.

3. Tuhan adalah tempat semua menuju, meminta pengetahuan dan petunjuk, memohon bimbingan dan pertolongan. Ada masalah yang justru dikehendaki Tuhan untuk dihadapi seseorang untuk pembuktian kebenaran imannya. Saat itu masalah bernilai ujian. Ajaibnya Tuhan pula berkenan memberikan jawaban atas persoalan bagaimanapun rumitnya apabila seseorang memintanya.

4. Saat itulah seseorang mulai menyadari bahwa ia memerlukan Tuhan dalam menghadapi setiap ujian. Semakin besar, semakin sulit maka semakin ia memerlukan kehadiran KuasaNYA dalam proses pemecahan masalah dan mengatasi ujian-ujian tersebut. Tak ada alasan untuk bersikukuh bertahan pada kekuatan ego diri yang lemah dan sering buta atau tak mampu melihat banyak hal. Dalam hal ini pemecahan masalah yang efektif ternyata memerlukan kerendahan hati dan meminimalkan ego diri. Keyakinan diri yang berlebihan dan menihilkan pertolongan Tuhan akan mendorong munculnya kesombongan.
Sebaliknya kepasrahan tanpa ikhtiar juga mencerminkan kemalasan dan sikap pasif individu. Kesungguhan dalam berusaha dan penyerahan diri secara sadar dan konstruktif adalah sikap yang ideal.

5. Hikmah lain adalah bahwa masalah seseorang bisa jadi berkah bagi orang yang lain. Ini adalah kenyataan, mau tidak mau, suka atau tidak suka, sering kita lihat justru dari situasi problematis yang dihadapi seseorang ada orang lain yang mendapat berkah darinya. Kematian serangga terbang adalah berkah bagi kawanan semut yang perlu makan. Tiada mungkin bagi semut menjangkau serangga yang punya sayap maka dengan caranya sendiri Tuhan berkenan mengirimkan makanan kepada makhluk-makhlukNYA yang melata di muka bumi. Semua itu adalah bukti kemurahan Tuhan.

Jadi percayalah bahwa se-berat apapun, se-sulit apapun beban hidup yang anda hadapi, serahkan semuanya kepada Tuhan.

Karena hanya di dalam nama Tuhan maka segala persoalan akan selalu ada jalan keluar


Taken From:
Wise Words Collection

January 21, 2006

Bisakah Pikiran Negatif Dikendalikan?

Oleh SAWITRI SUPARDI SADARJOEN, PSIKOLOG

Alkisah ada dokter yang memberi tumpangan kepada tentara muda yang bermaksud ke rumah sakit. Tentara itu kehilangan satu tangannya. Ekspresi wajah tentara itu ceria, segar, banyak bicara dan tampak suka bercanda. Dokter itu sama sekali tidak memperhatikan satu tangannya yang tidak ada. Tentara itu mengatakan, ia heran kenapa dokter itu tidak berkomentar apa pun tentang kehilangan tangannya. Padahal, hampir semua orang yang bertemu dengannya akan menanyakan dalam peperangan mana dia kehilangan tangan dan pertanyaan lain secara mendetail.

"Pasti pertanyaan itu menyakitkan dirimu, ya?" tanya si dokter. "Ya. iyalah," jawab si tentara. "Tetapi, saya sekarang bisa menempatkan masalah itu dengan baik. Saya tahu apa yang diharapkan ornng dari saya dan apa yang saya harapkan dari orang lain. Saya tahu juga bila saya berlarut memikirkan tangan buntung, berarti saya terus-menerus mengasihani diri sendiri".

"Sekarang saya tahu di mana saya harus menempatkan rasa kasihan terhadap diri sendiri. Saya harus mulai bangkit untuk menegakkan apa yang seharusnya saya inginkan. Sekarang saya bahagia dan akhirnya saya terima kenyataan, karena bagaimanapun saya masih bisa jalan, melihat, mendengar, dan bekerja. Saya harus bersyukur", demikian lanjut tentara itu dengan suara semakin tegas dan jelas bahkan terkesan ceria. Ketika sampai di rumah sakit, ia melambaikan tangan dan mengatakan, "Terima kasih atas tumpangannya. lni adalah berkah yang juga saya syukuri. Hari ini saya bisa menumpang di mobil seorang dokter yang baik hati."

Perempuan obesitas usia 30 tahun, yang hidup dengan suami dan anak-anaknya dalam rumah yang nyaman, mengeluh menderita panyakit jantung, sering cemas tidak menentu, terkadang sesak napas dan sulit tidur.

Setelah melalui pemeriksaan media, ternyata ia tidak mengalami gangguan fisik serius, tetapi dokter ahli jantungnya gagal meyakinkan bahwa fungsi jantungnya sebenarnya baik. Ia begitu tidak bahagia dan sering timbul keinginan bunuh diri.

Terkadang kita tidak habis berpikir, mengapa perempuan yang dikelilingi suami dan anak-anak yang mencintainya di rumah nyaman, menyiksa diri dengan keluhan berlanjut sampai terkesan tidak berdaya dan tidak dapat ditolong siapa pun.

Jawabannya sederhana, saat perempuan itu masih gadis, ia adalah gadis yang langsing. Peningkatan berat tuhuh terjadi saat kehamilan anak-anaknya. Ketakutan akan kemungkinan suaminya tidak mencintainya lagi muncul karena saat ini ia gemuk dan perasaan buruk rupa terus membayangi dirinya.

Mengusir Perasan Negatif
Bila kita simak dua kasus ini, wajar mereka mengalami perasaan takut dan mengasihani diri sendiri. Bedanya, tentara itu tahu penyebab timbulnya rasa mengasihani diri itu dan memeranginya, sementara perempuan obesitas tersebut terpaku dan dikuasai rasa kurang nyaman sehingga dilanda kecemasan berlanjut.

Kita pun sesekali pernah merasa ketakutan, mengasihani diri, dan merasa diri paling malang di dunia. Apalagi bila kita melihat rekan kita sepertinya tampak lebih beruntung, dalam hal finansial atau kemajuan profesi, misalnya. Kita dilanda iri hati. Iri hati merupakan cikal bakal perasaan negatif yang mengganggu karena pikiran yang buruk justru membuat kita terpuruk secara mental maupun fisik

Apa yang harus kita lakukan untuk mengusir pikiran buruk yang subyektif tersebut?

Pertama, kenali pikiran buruk tersebut dengan menganalisis perasaan kita. Saat kita berpikir serentak kita juga akan merasakan sesuatu. Pikiran buruk muncul, perasaan terpuruk timbul.

Bila kebiasaan berpikir kita subyektif, maka ketakutan, iri hati, kebencian dan erotik akan dirasakan sebagai perasaan depresi, cemas, tidak berdaya. Berpikir dan merasakan bergulir seperti lingkaran setan sebab dan akibat. Kebiasaan cara berpikir kita akan menentukan apakab kita akan menjadikan keluhan fisik yang kita rasakan tetap sederhana atau menjadi keluhan fisik serius.

Kebiasaan berpikir kita pun menentukan apakah kita akan selalu kembali ke masa lalu yang menyedihkan dan membuat terpuruk berlanjut atau berorientasi ke masa depan yang membuat kita hidup berbahagia.

Berpikir negatif akan mengikis kekuatan kita dalam menempa kebiasaan berpikir konstruktif. Kebiasaan berpikir positif merupakan kata kunci untuk perkembangan kepribadian kita secara menyeluruh. Bila kita bisa berpikir untuk berjalan ke rumah sakit atau ke arah yang berlawanan dengan rumah sakit, kita dapat berpikir untuk menuju ketidakhabagiaan yang kronis atau kehabagiaan dan keceriaan yang penuh kecukupan diri. Pilihan terserah kepada kita

January 13, 2006

Kata Terurai Jadi Laku

Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu
pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja

ia percaya kalau ia berada di rumah hantu.

Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali.

Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera

kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk

menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat perempuan itu berkata padanya, "Ini
emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah

ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya
membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan
menjadi seorang istri."
Tapi lelaki itu malah menjawab, "Aku sudah
memutuskan untuk mencintaimu.
Aku takkan menikah lagi."

Semua orang terheran-heran. Keluarga itu tetap utuh
sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka dikaruniai

anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang

luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang
menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki itu menjawab
enteng, "Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha
melakukan yang terbaik.
Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang
bisa ia lakukan untukku.
Sampai aku bahkan tak pernah merasakan kulit hitam
dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan

adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik."

Begitulah cinta ketika ia terurai jadi laku. Ukuran
integritas cinta adalah ketika ia bersemi dalam hati.

terkembang dalam kata. terurai dalam laku. Kalau hanya

berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan
tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu
cinta yang disertai dengan kepalsuan dan tidak nyata.

Kalau cinta sudah terurai jadi laku,
cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhunjam
dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya

menjumbai alam laku. Persis seperti iman, terpatri

dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh
amal.

Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin
kita temukan fakta besar ini, bahwa cinta hanya kuat

ketika ia datang dari pribadi yang kuat, bahwa integritas

cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga
punya integritas. Karena cinta adalah keinginan baik
kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat
sepanjang kebersamaan.

Rahasia dari sebuah hubungan yang sukses bertahan
dalam waktu lama adalah pembuktian cinta terus menerus.

Yang dilakukan para pecinta sejati disini adalah memberi

tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan
karena perasaan cinta yang bersemi di dalam hati,
tapi karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh

perasaan cinta itu.
Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia
memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus
melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta yang tidak terurai
jadi laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang

semakin menganga lebar dalam masyarakat kita

Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi
harus begitulah cinta, Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu
Semua kan jadi enteng
Dan semua yang ada di atas tanah
Hanyalah tanah jua

December 24, 2005

Sang Anak

Ada seorang pria, termasuk anak lelakinya, suka mengkoleksi karya seni
yang langka. Mereka memiliki seluruh koleksi karya seni yang pernah ada, dari
Picasso sampai Raphael. Bapa dan anak ini seringkali duduk bersama dan
mengagumi keindahan karya-karya seni tersebut.
Ketika terjadi perang Vietnam, anak lelaki ini diutus ke medan peperangan.
Seorang pemuda yang gagah berani dan gugur di medan perang ketika ia
sedang menyelamatkan jiwa prajurit lain. Hati ayahnya hancur ketika ia mendengar
hal tersebut, menangisi kepergian anak tunggalnya.
Sebulan kemudian, sesaat sebelum hari Natal, terdengar sebuah ketukan di
pintu rumahnya. Seorang anak muda berdiri di depan pintu membawa sebuah
bingkisan besar. Dan berkata, "Tuan, Anda tidak mengenal saya, tetapi saya
adalah prajurit yang diselamatkan oleh anak Anda.. Ia menyelamatkan banyak
jiwa hari itu, dan ia sedang menggendongku ke tempat yang aman ketika ia
ditembak, tepat terkena di hatinya.. dan ia meninggal seketika. Anak Tuan
seringkali berbicara tentang Anda dan kecintaan Anda terhadap karya seni."
Kemudian anak muda itu menyerahkan bingkisan yang dibawanya. "Saya tahu
pemberian saya ini tidak terlalu banyak. Saya bukanlah senimanyang hebat,
tetapi saya rasa anak Tuan akan menginginkan Tuan memilikinya."
Si Ayah membuka bingkisan tersebut. Lukisan itu adalah lukisan anaknya,
yang dilukis sendiri oleh prajurit muda itu. Ia terbelalak
kagum menatap lukisan anaknya, bagaimana prajurit muda itu mampu menangkap
kepribadian anaknya, dan menuangkannya dalam lukisan. Dan perhatian sang
ayah juga tertarik pada sinar mata anaknya, membuatnya begitu terharu
sehingga ia meneteskan air mata.

Sang ayah mengucapkan terima kasih kepada prajurit muda tersebut dan
menawarkan uang untuk menggantikan hadiah itu. "Oh, tidak Tuan.. Saya
tidak akan pernah mampu membayar kembali kebaikan anak Tuan. Ini adalah
hadiah.."

Lukisan itu kemudian digantungkan di ruang tamunya. Setiap kali tamu
berkunjung ke rumahnya, ia menunjukkan mereka lukisan anaknya terlebih
dahulu, sebelum ia menunjukkan koleksi seninya yang lain.
Dan beberapa bulan kemudian, sang ayah meninggal dunia. Dan diadakan
lelang besar untuk koleksi lukisannya. Orang-orang kaya dan terhormat datang
berkumpul, merasa senang bahwa pada akhirnya mereka mempunyai kesempatan
untuk memiliki karya-karya seni yang langka sebagai koleksi mereka.
Lukisan sang anak diletakkan di atas mimbar. Pelelang kemudian memukulkan
palunya, "Lelang akan dimulai dengan lukisan sang anak.
Siapa yang akan menawar lukisan ini?"
Ruangan tersebut tiba-tiba hening. Dari arah belakang terdengar suara,
"Kami ingin melihat lukisan-lukisan terkenal! Lewati lukisan ini!"
Tetapi pelelang tetap berkata, "Apakah ada yang menawar lukisan ini?
Dimulai dari $100? $200?"
Terdengar suara lain yang mulai marah, "Kami tidak datang untuk melihat
lukisan ini. Kami mau melihat Van Gogh, Rembrandt.. Jangan main-main.
Mulailah serius!"

Namun, pelelang tersebut tetap berkata, "Sang Anak! Sang Anak! Siapa yang
akan mengambil Sang Anak?". Akhirnya, terdengar suara dari belakang
ruangan.
Suara tukang kebun keluarga tersebut. "Aku akan berikan $10 untuk lukisan
itu." Karena ia miskin, ia hanya sanggup memberikan $10.
"Ada $10! Siapa yang akan menawar $20?"
"Biarkan ia membayar $10! Sekarang ayo perlihatkan kami lukisan yang
lain!"
"$10! Siapa yang akan menawar $20?"
Para tamu mulai marah. Mereka tidak ingin melihat lukisan sang Anak.
Mereka hendak mengeluarkan uang dan menginvestasikannya pada koleksi,
lukisan yang langka dan mahal!

Si pelelang memukul-mukulkan palunya ke atas meja, "Satu! Dua!
TERJUAL untuk $10!" Seorang pria yang duduk di barisan kedua mulai
berteriak, "Sekarang ayo serius mulai dengan pelelangan ini!!!"

Pelelang itu kemudian meletakkan palunya. "Maaf. Acara lelang sudah
berakhir."
"Apa?? Bagaimana dengan lukisan-lukisan yang lain??"
"Maaf. Ketika saya diminta untuk mengadakan lelang ini, saya diberitahukan
bahwa acara lelang ini adalah salah satu rahasia untuk dilakukan dalam
surat wasiatnya. Dan saya tidak boleh membuka rahasia tersebut sampai acara ini
berakhir. Hanya lukisan sang anak yang boleh dilelang. Siapa yang membeli
lukisan tersebut akan memiliki seluruh harta kekayaannya, properti, tanah,
termasuk seluruh koleksi lukisannya. Bapak yang membeli lukisan sang Anak
memperoleh semuanya!!

Tuhan memberikan AnakNya 2.000 tahun yang lalu untuk mati di kayu
salib. Seperti pelelang tersebut berkata, pesan hari ini adalah
"Sang Anak, sang Anak!! Siapa yang mau mengambil sang Anak?" Karena
Anda lihat, siapa yang mengambil Sang Anak memperoleh semuanya.


Terj. bebas: Azallea Lesmana (Untuk kalangan sendiri)
Pengarang: Tidak diketahui


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

December 06, 2005

Kasih Ibu

Apakah Anda mengasihi Ibu Anda? Apakah Anda masih ingat betapa besar Kasih sayangnya Ibu Anda? Bacalah artikel ini!

Artikel pertama

Jalannya sudah ter-titih2, karena usianya sudah lebih dari 70 th, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal dirumah jompo, karena kehadirannya tidak di-inginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tsb.

Ayah dari anak tsb minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Disamping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yg belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yg hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahakannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya. Selain aib yg harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yg mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yg ia dapatkan hanya cemohan, karena telah melahirkan seorang bayi haram tanpa bapak.

Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yg didapatkannya dari Tuhan dimana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yg ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love - Kasih. Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan diwaktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yg ia bisa dapatkan.

Terkadang ia harus menjahit s/d jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yg tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yg tercinta.

Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, disamping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yg seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yg tercinta, hanya yg terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian s/d makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca diluaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yg telah dikumpulkannya belum mencukupinya.

Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja.

Sejak saat tsb ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yg terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yg tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Disana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yg bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak di undang, bahkan kehadirannya tidaklah di inginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yg tercinta. Sejak saat itu ber-th2 ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu.

Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dgn anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dgn menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya. Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Dirumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai bibi pembantu dari keluarga tsb. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.

Dirumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Disamping itu sering sekali di bentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yg kecil dibelakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja ber-th2 sebagai babu tanpa ada orang yg mengetahui siapa dirinya dirumah tsb, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yg setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo. Puluhan th ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dgn putri kesayangannya. Uang pension yg ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dgn pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yg ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Disamping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yg ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat dibawah nol dan salujupun turun dgn lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena diluaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi kerumah putrinya. Ia ingin betemu dgn putrinya sekali lagi yg terakhir kali. Dgn tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus ber-jam2 diluaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat dimana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya.

Satu perjalanan yg jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yg berada dlm keadaan sakit.

Setiba dirumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yg membukakan pintu rumah gedong dimana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yg diucapkan putrinya?

Apakah rasa bahagia bertemu kembali dgn ibunya? Tidak! Bahkan ia di tegor:

"Kamu sudah bekerja dirumah kami puluhan th sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu dibelakang rumah!"

"Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yg terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena diluaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!" kata wanita tua itu. "Maaf saya tidak ada waktu, disamping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!" ucapan putrinya dgn nada kesal. Setelah itu pintu di tutup dgn keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis. Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih belas kesianpun tidak ada.

Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon dirumah putrinya "Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon kekantor polisi, sebab dihalte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!" Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yg tercinta yg tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.


Artikel Kedua

Ibu saya tidak melek komputer, bahkan beliau seorang wanita yg buta aksara, tetapi untuk mang Ucup pribadi beliau adalah wanita yg paling hebat, dimana s/d detik ini mang Ucup masih bisa belajar dari padanya. Belajar memberikan dan membagikan kasih tanpa pamrih dan tanpa lagas. Ibunya mang Ucup menderita sakit kanker, tetapi ia tidak pernah mengeluh. Tiap kali saya menelpon Ibu, pertanyaan standard selalu diajukan kepada saya: "Apa yg Ibu bisa bantu untukmu nak?" Ia tidak memohon untuk dirinya sendiri dlm doanya, yg ia utamakan selalu hanyalah kami anak2nya! Ia selalu mendoakan kami siang dan malam.

Maka dari itulah untuk mang Ucup, Ibu saya adalah wanita yg tercantik sejagat raya, melebihi daripada Michael Preifer walaupun ia barusan saja terpilih oleh majalah People sebagai wanita tercantik sedunia untuk th 1999.

Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dgn penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga.

Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak2nya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun.

Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari2 tertentu.

Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja " sedangkan di hari2 lainnya tidak pernah mengingatnya, boro2 memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu. Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah.

Renungkanlah:

Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu?

Kapan kita terakhir mengundang Ibu?

Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan2?

Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dgn ucapan terima kasih kepada Ibu kita?

Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup,

percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat,

karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

When Mother prayed, she found sweet rest,

When Mother prayed, her soul was blest;

Her heart and mind on Christ were stayed,

And God was there when Mother prayed!

Our thanks, O God, for mothers

Who show, by word and deed,

Commitment to Thy will and plan

And Thy commandments heed.

A thousand men may build a city,

but it takes a mother to make a home.

Apabila Anda mengasihi Ibunda Anda sebarkanlah tulisan ini kepada rekan2 lainnya, agar mereka juga sadar selama Ibunda mereka masih hidup berikanlah bakti kasih Anda kepada Ibunda terkasih sebelumnya terlambat.

(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

November 09, 2005

Relationship

TRUST

TRUST is a very important factor for all relationships.
When trust is broken, it is the end of the relationship.
Lack of trust leads to suspicion, suspicion generates anger,
anger causes enmity and enmity may result in separation.

A telephone operator told me that one day she received a
phone call. She answered, "Public Utilities Board."
There was silence. She repeated, "PUB." There was still no
answer. When she was going to cut off the line, she Heard
a lady's voice, "Oh, so this is PUB. Sorry, I got the number
from my Husband's pocket but I do not know whose number it is."

Without mutual trust, just imagine what will happen to the
couple if the telephone operator answered with just "hello"
instead of "PUB".

----------------------------------------------------------------------------

NO POINTING FINGERS

A man asked his father-in-law, "Many people praised you for
a successful marriage. Could you please share with me your
secret?"
The father-in-law answered in a smile, "Never criticize your
wife for her shortcomings or when she does something wrong.
Always bear in mind that because of her shortcomings and
weaknesses, she could not find a better husband than you."
We all look forward to being loved and respected.
Many people are afraid of losing face. Generally, when a
person makes a mistake, he would look around to find a
scapegoat to point the finger at. This is the start of a war.
We should always remember that when we point one finger at
a person, the other four fingers are pointing at ourselves.

If we forgive the others, others will ignore our mistake too.

-----------------------------------------------------------

CREATING PERFECT RELATIONSHIPS?

A person visited the government matchmaker for marriage,
SDU, and requested "I am looking for a spouse. Please help
me to find a suitable one." The SDU offi cer said,
"Your requirements, please." "Oh, good looking, polite,
humorous, sporty, knowledgeable, good in singing and
dancing.
Willing to accompany me the whole day at home during my
leisure hour, if I don't go out. Telling me interesting
stories when I need companion for conversation and be
silent when I want to rest." The officer listened
carefully and replied, "I understand you need television."

There is a saying that a perfect match can only be found
between a blind wife and a deaf husband ,because the blind
wife cannot see the faults of the husband and the deaf
husband cannot hear the! nagging of the wife. Many couples
are blind and deaf at the courting stage and dream of
perpetual perfect relationship. Unfortunately, when the
excitement of love wears off, they wake up and discover
that marriage is not a bed of roses. The nightmare begins.

-------------------------------------------------------

NO OVERPOWERING

Many relationships fail because one party tries to
overpower another,or demands too much. People in love
tend to think that love will conquer all and their
spouses will change the bad habits after marriage.
Actually, this is not the case. There is a Chinese
saying which carries the meaning that "It is easier to
reshape a mountain or a river than a person's character."

It is not easy to change. Thus, having high expectation
on changing the spouse character will cause
disappointment and unpleasantness.

It would be less painful to change ourselves and lower
our expectations..

---------------------------------------------------------

RIGHT SPEECH

There is a Chinese saying which carries the meaning that
"A speech will either prosper or ruin a nation."
Many relationships break off because of wrong speech.
When a couple is too close with each other,we always
forget mutual respect and courtesy. We may say anything
without considering if it would hurt the other party.

A friend and her millionaire husband visited their
construction site. A worker who wore a helmet saw her and
shouted,"Hi, Emily! Remember me? We used to date in the
secondary school." On the way home, her millio! naire
husband teased her, "Luckily you married me.Otherwise you
will be the wife of a construction worker." She answered,
"You should appreciate that you married me. Otherwise,
he will be the millionaire and not you."

Frequently exchanging these remarks plants the seed for
a bad relationship. It's like a broken egg - cannot be
reversed.

----------------------------------------------------------------------------

PERSONAL PERCEPTION

Different people have different perception. One man's meat
could be another man's poison. A couple bought a donkey
from the market. On the way home,a boy commented,
"Very stupid. Why neither of them ride on the donkey?"
Upon hearing that, the husband let the wife ride on the
donkey. He walked besides them. Later, an old man saw it
and commented, "The husband is the head of family. How can
the wife ride on the donkey while the husband is on foot?"
Hearing this, the wife quickly got down and let the husband
ride on the donkey.

Further on the way home, they met an old Lady. She commented,
"How can the man ride on the donkey but let the wife walk.
He is no gentleman."
The husband thus quickly asked the wife to join him on the
donkey. Then, they met a young man. He commented, "Poor donkey,
how can you hold up the weig! ht of two persons. They are
cruel to you." Hearing that, the husband and wife immediately
climbed down from the donkey and carried it on their shoulders.

It seems to be the only choice left. Later, on a narrow
bridge, the donkey was frightened and struggled. They lost
their balance and fell into the river. You can never have
everyone praise you, nor will everyone condemn you. Never in
the past, not at present, and never will be in the future.

Thus, do not be too bothered by others words if our conscience
is clear..


-----------------------------------------------------------------------

BE PATIENT

This is a true story which happened in the States. A man came
out of his home to admire his new truck. To his puzzlement,
his three-year-old son was happily hammering dents into the
shiny paint of the truck. The man ran to his son, knocked him
away, hammered the little boy's hands into pulp as punishment.
When the father calmed down, he rushed his son to the hospital.

Although the doctor tried desperately to save the crushed bones,
he finally had to amputate the fingers from both the boy's hands.
When the boy woke up from the surgery & saw his bandaged stubs,
he innocently said, " Daddy,I'm sorry about your truck."
Then he asked, "but when are my fi! ngers going to grow back?"
The father went home & committed
suicide.

Think about this story the next time someone steps on your feet
or u wish to take revenge. Think first before u lose your
patience with someone u love. Trucks can be repaired..
Broken bones & hurt feelings often can't. Too often we fail to
recognize the difference between the person and the performance.
We forget that forgiveness is greater than revenge.

People make mistakes. We are allowed to make mistakes. But the
actions we take while in a rage will haunt us forever.


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

November 06, 2005

Hidup Yang Lebih Bermakna

Sepasang suami istri hidup bahagia. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI, karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi. Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka.

Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan. Tetapi bayi perempuan mengalami kelainan, dan ia mungkin tidak bisa hidup sampai masa kelahiran tiba. Dan kondisinya juga dapat mempengaruhi kondisi bayi laki2. Jadi dokter menyarankan untuk dilakukan aborsi, demi untuk sang ibu dan bayi laki2 nya.

Fakta ini membuat keadaan menjadi terbalik. Baik sang suami maupun sang istri mengalami depressi. Pasangan ini bersikeras untuk tidak menggugurkan bayi perempuannya (membunuh bayi tsb), tetapi juga kuatir terhadap kesehatan bayi laki2nya. "Saya bisa merasakan keberadaannya, dia sedang tidur nyenyak", kata sang ibu di sela tangisannya.

Lingkungan sekitarnya memberikan dukungan moral kepada pasangan tersebut, dengan mengatakan bahwa ini adalah kehendak Tuhan. Ketika sang istri semakin mendekatkan diri dengan Tuhan, tiba-tiba dia tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencanaNya dibalik semua ini. Hal ini membuatnya lebih tabah.

Pasangan ini berusaha keras untuk menerima fakta ini. Mereka mencari informasi di internet, pergi ke perpustakaan, bertemu dengan banyak dokter, untuk mempelajari lebih banyak tentang masalah bayi mereka. Satu hal yang mereka temukan adalah bahwa mereka tidak sendirian. Banyak pasangan lainnya yang juga mengalami situasi yang sama, dimana bayi mereka tidak dapat hidup lama. Mereka juga menemukan bahwa beberapa bayi akan mampu bertahan hidup, bila mereka mampu memperoleh donor organ dari bayi lainnya. Sebuah peluang yang sangat langka. Siapa yang mau mendonorkan organ bayinya ke orang lain ?

Jauh sebelum bayi mereka lahir, pasangan ini menamakan bayinya, Jeffrey dan Anne. Mereka terus bersujud kepada Tuhan. Pada mulanya, mereka memohon keajaiban supaya bayinya sembuh. Kemudian mereka tahu, bahwa mereka seharusnya memohon agar diberikan kekuatan untuk menghadapi apapun yang terjadi, karena mereka yakin Tuhan punya rencanaNya sendiri.

Keajaiban terjadi, dokter mengatakan bahwa Anne cukup sehat untuk dilahirkan, tetapi ia tidak akan bertahan hidup lebih dari 2 jam. Sang istri kemudian berdiskusi dengan suaminya, bahwa jika sesuatu yang buruk terjadi pada Anne, mereka akan mendonorkan organnya. Ada dua bayi yang sedang berjuang hidup dan sekarat, yang sedang menunggu donor organ bayi. Sekali lagi, pasangan ini berlinangan air mata. Mereka menangis dalam posisi sebagai orang tua, dimana mereka bahkan tidak mampu menyelamatkan Anne. Pasangan ini bertekad untuk tabah menghadapi kenyataan yg akan terjadi.

Hari kelahiran tiba. Sang istri berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat. Pada momen yang sangat berharga tersebut, sang suami menggendong Anne dengan sangat hati-hati, Anne menatap ayahnya, dan tersenyum dengan manis. Senyuman Anne yang imut tak akan pernah terlupakan dalam hidupnya.

Tidak ada kata2 di dunia ini yang mampu menggambarkan perasaan pasangan tersebut pada saat itu. Mereka sangat bangga bahwa mereka sudah melakukan pilihan yang tepat (dengan tidak mengaborsi Anne), mereka sangat bahagia melihat Anne yang begitu mungil tersenyum pada mereka, mereka sangat sedih karena kebahagiaan ini akan berakhir dalam beberapa jam saja. Sungguh tidak ada kata2 yang dapat mewakili perasaan pasangan tersebut. Mungkin hanya dengan air mata yang terus jatuh mengalir, air mata yang berasal dari jiwa mereka yang terluka.

Baik sang kakek, nenek, maupun kerabat famili memiliki kesempatan untuk melihat Anne. Keajaiban terjadi lagi, Anne tetap bertahan hidup setelah lewat 2 jam. Memberikan kesempatan yang lebih banyak bagi keluarga tersebut untuk saling berbagi kebahagiaan. Tetapi Anne tidak mampu bertahan setelah enam jam.

Para dokter bekerja cepat untuk melakukan prosedur pendonoran organ. Setelah beberapa minggu, dokter menghubungi pasangan tsb bahwa donor tsb berhasil. Dua bayi berhasil diselamatkan dari kematian.

Pasangan tersebut sekarang sadar akan kehendak Tuhan. Walaupun Anne hanya hidup selama 6 jam, tetapi dia berhasil menyelamatkan dua nyawa. Bagi pasangan tersebut, Anne adalah pahlawan mereka, dan sang Anne yang mungil akan hidup dalam hati mereka selamanya.


Ada 3 point penting yang dapat kita renungkan dari kisah ini :

1. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama kita hidup, satu hari ataupun bahkan seratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang kita telah kita lakukan selama hidup kita, yang bermanfaat bagi orang lain.
2. SESUNGGUHNYA, tidaklah penting berapa lama perusahaan kita telah berdiri, satu tahun ataupun bahkan dua ratus tahun. Hal yang benar2 penting adalah apa yang dilakukan perusahaan kita selama ini, yang bermanfaat bagi orang lain.
3. Ibu Anne mengatakan "Hal terpenting bagi orang tua bukanlah mengenai bagaimana karier anaknya di masa mendatang, dimana mereka tinggal, maupun berapa banyak uang yang mampu mereka hasilkan. Tetapi hal terpenting bagi kita sebagai orang tua adalah untuk memastikan bahwa anak2 kita melakukan hal2 terpuji selama hidupnya, sehingga ketika kematian menjemput mereka,mereka akan menuju surga".

NOTES
Mohon KEMURAHAN HATI Anda untuk menyebarkan kisah ini kepada sanak keluarga Anda, famili, teman2, rekan2 kerja, rekan2 bisnis, atasan, bawahan, sebuah kelompok organisasi ataupun perusahaan, PELANGGAN, serta siapa saja yang Anda temui. Kisah ini dapat disebarkan melalui internet, ataupun difotocopy per banyak untuk dibagi2kan secara gratis kepada orang banyak.

Ada 4 kemungkinan respon dari pihak2 yang telah membaca kisah ini.
PERTAMA, cuek / tidak peduli /tidak mengerti kisah ini.
KEDUA, tersentuh dengan kisah ini, tetapi tidak melakukan apapun.
KETIGA,tersentuh dengan kisah ini, intropeksi diri, lalu mengubah cara pandang tentang hidupnya. KEEMPAT,tersentuh, intropeksi diri, mengubah cara pandang tentang hidupnya, lalu bergerak aktif untuk memaknai hidupnya sendiri dengan cara memberikan makna bagi kehidupan orang lain.

Bila di antara sekian banyak orang yang memperoleh kisah ini dari Anda, ada satu saja yang termasuk kategori nomor EMPAT, ini berarti Anda telah berhasil mengubah hidup seseorang, dari sekedar "Hidup" menjadi "Hidup Yang Lebih Bermakna". Mereka sungguh beruntung dengan kehadiran Anda di dunia ini.

"Berhentilah Untuk Selalu Memikirkan Kepentingan Diri Sendiri, Jadikanlah Kehadiran Anda Di Dunia Ini Sebagai RAHMAT Bagi Orang Banyak dan Bagi Orang2 Yang Anda Cintai (Ayah, Ibu, Saudara/i, Suami/Istri, Anak2 Anda, dst)"


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

November 03, 2005

Kekayaan, Kesuksesan dan Cinta

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu Untuk menganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar." "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali",kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini,lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali,dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini".

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama,kata pria itu hampir bersamaan"."Lho, kenapa?" tanya wanita itu karena terasa heran. Salah seorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan", katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya "Sedangkan yang ini bernama Kesuksesan", sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. "Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa di antara kami yang boleh masuk ke rumahmu".

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohh... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan". Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku,Kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita".

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta".

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita".

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini". Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Lho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta.

Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?"

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang Si kekayaan, atau si kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Di mana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan Kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini". (SM)


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

November 02, 2005

Walt Disney

Walter Elias Disney dilahirkan di Chicago pada tanggal 5 Desember 1901. Ibunya Flora Call, adalah seorang wanita Jerman. Sedangkan ayahnya Elias Disney, adalah seorang keturunan Irlandia.
Kehidupan keluarga Disney berpindah dari satu kota ke kota lain, karena Elias Disney, yang sebenarnya terpesona oleh dunia bisnis, tidak mempunyai kesesuaian diri dengan dunia itu dan seringkali
mengalami kegagalan finansial.

Pada tahun 1906, keluarga Disney pindah ke daerah Marceline, Missouri, di tanah pertanian yang baru dibelinya. Walt Disney kecil menyukai kehidupan di daerah barunya tersebut. Selain itu, kehidupan
di desa tersebut juga menghidupkan rasa sayangnya kepada binatang2 yang hidup di sekitarnya, seperti bebek, tikus, dan anjing. Kelak, ternyata hewan-2 itulah yang membuat namanya menjulang. Dari sini,
Walt Disney menarik pelajaran berharga yang dia terapkan sepanjang hidupnya, yaitu bahwa KEBAHAGIAAN AKAN TIMBUL DALAM DIRI KITA APABILA KITA MELAKUKAN SESUATU YANG BENAR-BENAR KITA SUKAI.

Kehidupan Walt Disney yang bahagia itu teryata hanya bisa dinikmati sesaat saja. Kegagalan panen yang berturut-turut membuat Elias Disney, ayahnya harus menjual ladang pertaniannya dan membeli sebuah perusahaan koran setempat yang kecil. Untuk menghemat biaya pegawai, Elias Disney mempekerjakan Walt Disney dan kakaknya Ray tanpa biaya. Setiap pagi pukul 3.30 dinihari Walt dan Ray sudah harus bangun untuk menunggu kedatangan truk pengangkut. Sesudah itu mereka harus menjalankan tugas harian mengantarkan koran kepada para pelanggan di kota. Kadang-kadang orang menjumpai Walt berjalan dengan kelelahan dan gemetar kedinginan dengan bawaan hampir seberat dua kali berat tubuhnya. Adakalanya cuaca begitu dingin, sehingga Walt harus berjongkok di sudut jalan sekedar untuk menghangatkan diri. Seringkali Walt berpikir, apakah untuk hidup di dunia ini orang harus bekerja mati-matian sebagai budak dengan upah yang hanya bisa sekedar untuk survive ? Tidak adakah jalan lain untuk hidup ? Bila Walt mengantarkan koran untuk para pelanggannya yang kebanyakan adalah orang kaya di kota, maka Walt juga mulai berpikir mengapa mereka bisa hidup mewah, sementara dirinya hidup serba kekurangan. Hal ini akhirnya melahirkan pelajaran kedua di dalam hidupnya, yaitu bahwa KEHIDUPAN ITU ADALAH SUATU PILIHAN. APAKAH KITA MAU HIDUP KAYA ATAU MISKIN, TERGANTUNG ATAS KEPUTUSAN DAN TINDAKAN KITA SEPENUHNYA SAAT INI.

Atas dasar pemikiran itulah maka setelah beranjak dewasa Walt bersikeras memutuskan untuk masuk ke dinas tentara, karena menurutnya pekerjaan tentara bisa lebih memberi kekayaan dibanding sebagai pengantar koran yang bekerja tidak dibayar. Di sela-2 dinas ketentaraannya, Walt menggunakan waktu luangnya untuk menggambar. Rupanya, bakat Walt dalam menggambar memang luar biasa, sehingga dalam waktu yang singkat banyak teman-2nya di ketentaraan yang minta dibuatkan gambar dirinya.

Setelah perang dunia I usai, Walt keluar dari dinas tentara. Saat itu, sangatlah sulit mencari pekerjaan. Ini merupakan masa-masa paling suram dalam kehidupan Walt Disney. Untuk kembali ke orang tuanya dia malu, karena waktu itu dia sering menyombongkan pada orang tuanya bahwa pekerjaan tentara itu adalah `pekerjaan orang kaya'. Walt tidak mempunyai uang barang sedikitpun, dan terpaksa menumpang di belakang sebuah bengkel kecil, dengan sebuah bangku usang, satu-satunya perabotan yang dimilikinya, untuk makan dan tidur. Lebih parah lagi, seminggu sekali dia harus pergi mengendap-endap ke stasiun kota di malam hari hanya sekedar untuk `mencuri' mandi.

Walt menyadari, bahwa hal ini tidak mungkin dibiarkan terus menerus. Dia kembali ingat impiannya di masa lalu, bahwa dia ingin menjadi kaya, bukan gelandangan seperti sekarang. Tapi, apa yang bisa dilakukan dengan keadaannya yang sekarang, tanpa modal, tanpa kenalan, tanpa pekerjaan. Dalam keadaan paling parah dalam hidupnya, Walt akhirnya bisa merumuskan prinsip hidupnya yang ketiga, yaitu TIDAK PEDULI SEBERAPA PARAH KEADAAN KITA SAAT INI, NAMUN KEADAAN PASTI AKAN BERUBAH LEBIH BAIK APABILA KITA MASIH MEMILIKI SATU HAL : HARAPAN

Harapan itu pula yang terus memacu pikiran Walt. Akhirnya Walt menyadari, bahwa satu-satunya yang masih dimilikinya adalah bakat menggambarnya. Tapi, bagaimana caranya agar bakat tersebut bisa menghasilkan uang untuk dirinya ? Setelah sekian lama mencari-cari, Walt memutuskan bahwa Hollywood adalah tempat yang cocok dengan dirinya, dengan bakat yang dimilikinya. Untuk kesana, terpaksa Walt menahan malu dan meminjam uang dari kakaknya Ray. Setibanya disana, ternyata Walt hanyalah satu dari sekian ribu orang yang berharap bisa menjadi bintang di Hollywood. Mulailah Walt masuk satu persatu ke studio yang ada disana, dan mencoba menawarkan diri untuk bekerja apa saja, asal ada hubungannya dengan dunia perfilman. Bukan hal yang mudah ternyata, karena tidak ada satupun studio yang mau menerimanya, bahkan untuk pekerjaan yang paling rendah sekalipun.

Walt menyadari, bahwa para studio itu menolaknya karena dirinya tidak menunjukkan satu keahlian khusus, yang membuat mereka tertarik kepadanya. Belajar dari situ, Walt membeli beberapa kertas kosong dan mulai menggambar. Kemudian Walt kembali lagi ke studio-2 itu lagi, kini dengan menonjolkan `bakat' yang dimilikinya. Ternyata ada satu studio yang tertarik dengan bakat Walt yang luar biasa. Mereka bahkan langsung memesan satu cerita "Alice in The Wonderland" dalam bentuk film kartun bergerak, dengan harga awal US$ 1.500. Jumlah itu justru membuat Walt kaget, karena pada awalnya Walt hanya berharap mendapatkan upah US$ 50 sebulan, hanya sekedar untuk bertahan hidup. Rangkaian film "Alice in The Wonderland" sukses luar biasa di bioskop Amerika, dan bertahan sampai tiga tahun berturut-turut. Dengan hasil dari film ini, Walt mulai bisa memperbaiki hidupnya, membeli rumah, membuat studio sendiri dan menikah dengan Lilian Bounds.

Suatu hari, Walt teringat masa kecilnya yang bahagia di pedesaan. Hal ini menginspirasi dirinya untuk menggambar tiga sahabat binatangnya waktu itu, yaitu bebek, tikus, dan anjing. Dari sinilah kemudian lahir Donald Duck, Mickey Mouse dan Pluto. Ketiga binatang inilah yang membawa Walt Disney menuju ke kejayaannya sebagai seorang bintang di Hollywood. Selain itu, Walt juga rajin menciptakan film-
film animasi lain yang terus mencetak uang bagi dirinya, seperti Snow White, Cinderella, Peter Pan dan Bambi. Dari sinilah Walt kemudian mendedikasikan diri seutuhnya untuk kebahagiaan anak-2 sedunia.

Pada tahun 1950, Walt mempunyai impian untuk membangun taman impian bagi anak-anak. Impian Walt ini dianggap gila oleh rekan-2nya sesama pengusaha, namun Walt tetap dengan pendiriannya. Taman bermain ini akhirnya bisa diwujudkan pada tahun 1955 di Anaheim, California. Pada waktu pembukaan, Walt mengatakan dalam pidatonya "KESUKSESAN DIMULAI KETIKA KITA MULAI MENCIPTAKAN IMPIAN JAUH KEDEPAN. DAN SAAT KITA BERKOMITMEN UNTUK MENCAPAI IMPIAN ITU, MAKA SELANJUTNYA IMPIAN ITU YANG AKAN MENJADI MAGNET DAN MENARIK KITA KESANA..............". Walt Disney meninggal pada tahun 1966. Namun visi dan impiannya untuk kebahagiaan anak-anak akan terus dikenang oleh dunia sepanjang masa.


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 31, 2005

"First Love Never Dies", Benarkah?

OLEH SAWITRI SUPARDI SADARJOEN, PSIKOLOG
Kompas, Minggu, 30 Oktober 2005

"Ibu, selama tiga bulan terakhir saya benar­benar merasa tersiksa karena saya tidak bisa melepaskan ingatan tentang seseorang. Begitu kangennya ingin jumpa dengan orang itu, sering tanpa saya sadari air mata saya menetes.
"Siapakah orang' itu?" Bekas pacar saya ketika saya masih bersekolah di SMA. "Cinta pertamakah?" Ya, Bu. Tiga bulan lalu saya bertemu dia di acara reuni eks siswa angkatan 1955-1975. Terus terang begitu saya ketemu dia hati saya tiba-tiba berdebar dan tidak berani menatap mukanya. Rupanya dia juga memerhatikan saya, dan segera menemui saya, mengajak saya bersalaman. Kami bertukar alamat dan tanpa disangka beberapa hari setelah reuni dia menghubungi saya melalui telepon saling bertukar cerita tentang segala hal yang dialami selama hampir 50 tahun tidak bertemu. Saya heran sendiri kenapa bisa begini? Suami saya baik, keluarga kami hidup cukup, punya dua anak, anak-anak sudah menikah semua dan memberi tiga cucu. Apakah saya orang yang kurang bersyukur atau psikopat?" Demikian seorang ibu (K, 65) dengan tiga cucu.


Romantisme cinta

Reuni antar teman SMA memang reuni penuh nostalgia karena masa remaja saat bersekolah SMA adalah masa penuh bobot gejolak serta gairah bersosialisasi. Biasanya di situlah remaja mendapat pengalaman jatuh cinta untuk pertama kali. Sering orang mengatakan cinta SMA adalah cinta pertama yang dinilai
hanya sebagai cinta monyet, sekadar suatu pengalaman penghayatan perasaan kecil yang dapat berlalu dengan mudah dan jarang berakhir dengan perkawinan. Namun, ternyata justru cinta pertama dapat memiliki nilai romantisme yang tidak sederhana pengaruhnya dalam dunia perasaan seseorang.
Romantika cinta pertama sangat didominasi fantasi karena untuk kadar tertentu cinta saat itu adalah buta.

Gejolak kegairahan emosi membuat para pencinta bisa serentak menjadi pandai berpuisi dan menempatkan kekasihnya sebagai sosok ideal, bahkan serta merta bisa mengabaikan informasi-informasi negatif tentang sosok kekaSihnya. Imajinasi, harapan, dan ide-ide yang menggairahkan memenuhi relung hati pencinta yang sedang dilanda romantisme. Belum sampai terjadi penurunan kadar fantasi oleh berbagai sebab, apakah larangan orangtua untuk pacaran
semasa masih belajar di SMA, pindah tempat kota mengikuti orangtua, kecemburuan buta oleh pertemanan lain, atau perbedaan taraf sosial ekonomi orangtua, sering memaksa remaja memutus cinta dengan penuh derita.

Kalaupun setelah dewasa pasangan kekasih ini masing-masing membangun keluarga dengan orang lain, ingatan akan fantasi penuh gairah tentang pasangan cinta masa remaja tetap mencengkeram kuat di benak masing-masing. Mengapa? Karena fantasi penuh gairah, imajinasi, dan harapan indah belum sempat diikuti pengalaman nyata berhubungan, dalam ikatan perkawinan.

Dengan demikian, imajinasi penuh gairah masih bercokol dalam benak, sedangkan dengan pasangan perkawinan yang telah dilalui selama 40 tahun segalanya menjadi rutin dan segala hal yang rutin dengan sendirinya melunturkan gairah gejolak kehidupan perkawinan.

"Pada awalnya saya berbahagia dan menunggu-nunggu dering telepon dari dia, tetapi lama­lama saya kasihan melihat suami saya, dia suami yang baik. Kenapa saya abaikan suami saya hanya untuk sekadar menjalin hubungan tanpa tujuan jelas dengan eks pacar di SMA, padahal saya sudah setua ini, punya tiga cucu, hidup damai dalam keluarga, dan eks pacar juga sudah kakek-kakek, punya dua cucu pula.

"Akhirnya saya mengambil keputusan untuk menyudahi hubungan ini dengan cara tegas. Namun, apa jadinya? Ternyata saya tidak menyangka saya merasa kelimpungan sendiri dan murung hampir sepanjang hari sehingga timbul pertanyaan dalam diri apakah saya psiko­pat?"


Solusi

a) Cinta romantis yang berangkat dari cinta pertama memang mengesankan, namun bobot fantasi imajinasi sangat besar sehingga sulit ditemukan dalam kenyataan. Cengkeraman ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah first love tidak pernah mati. Umur seolah tidak berperan, sudah jadi kakek-nenek pun dapat mengalaminya. Jadi K bukan psikopat karena terngiang-ngiang romantisme cinta pertama, tetapi apa pun alasannya harus diupayakan melepaskannya dari ingatan.

b) Tanamkan dalam benak, andaikan hubungan yang saat ini terasa romantis dilanjutkan dengan perkawinan, belum tentu sukses karena fantasi romantisme akan cepat sirna oleh kenyataan yang dihadapi. Apalagi, bila ingatan akan kebahagiaan dalam kebersamaan dengan anak dan cucu kandung pun muncul
kembali tanpa diminta.

Cengkeraman ingatan fantasi dan imajinasi pada masa remajalah yang membuat seolah "first love" tidak pernah mati.

c) Kesalahan utama dalam ikatan perkawinan adalah kegagalan dalam menjalin hubungan intim dengan komitmen penuh pada perkawinan. Ketahuilah, relasi intim dengan komitmen akan menghasilkan relasi pertemanan penuh kasih. Perbaikilah kesalahan ini dan yakinilah keintiman relasi pertemanan yang penuh kasih lebih stabil daripada gairah romantisme. Pasangan yang sebanyak mungkin mengekspresikan pertemanan yang penuh kasih akan meraih kesuksesan perkawinan.

d) Cobalah untuk tetap segar dan terus menggapai setiap kesempatan guna menikmati pengalaman baru dengan pasangan perkawinan.***


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 30, 2005

Cinta Luar Biasa Dari Seorang Laki-laki Biasa

Cinta Luar Biasa Dari Seorang Laki-laki Biasa
Rubrik : Cerita Mini
Publikasi : 16-08-2005

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit
mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan
lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang,
hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar,
keheranan yang terjadi bukan semata miliknya,
melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama,
kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka
ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan
surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di
kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja
berlalu. Suasana sore di kampus sepi.
Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu
matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.
Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali
beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania
terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang
keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba
bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak
jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia
menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di
kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara
mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu
saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk
melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen
yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga
generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah
berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di
wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak
nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama
membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika
mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan
keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan
gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa
lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya
tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang
paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa
barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak
sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang
mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata
penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh
yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama
mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa
dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja
boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak
harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami.
Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu
juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi
seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih
gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa.
Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki
manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia
kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub
dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata
'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata
mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak
suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli.
Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga
biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa,
dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka
matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya
ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan
seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana
tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan
seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan
membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak
tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya
fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli
tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme
berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania
menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan
nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania
bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih
sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa
sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya,
Nania masih belum mampu juga menjelaskan
kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata
mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli,
begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya
dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia
meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat
perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta
Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata
mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu!
Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga
pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar,
dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes.
Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka
tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu
argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya
lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan
kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung
mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses,
mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk
menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.
Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi
punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak
juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah
memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu
perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja
lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak.
Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari
cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu,
ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu
memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika
digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu.
Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang
berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud
baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya?
Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan
lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik
menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari
keluarga biasa, dengan pendidikan biasa,
berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang
amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania.
Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak
penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di
kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah,
rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan
Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup
perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli
melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang
di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik
saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik. Cantik
ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang
pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek
tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia
yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum
bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania
mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak
sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat
Nania menangis.

***

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar.
Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua,
Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania
memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat
itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga
perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat.
Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam,
mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di
rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu
meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan
menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara
kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang
datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan
jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan
tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit
sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga
menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah
bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam
kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan
Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir
yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua.
Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah,
mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran
akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan
mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas.
Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang
sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi
perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap
nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri
memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali
pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak
dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir
kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak
melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar
operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba
putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia
tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter
itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada
dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun.
Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan
itu sempat menangkap teriakan-teriakan di
sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak,
sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa
menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan
zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania
mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap,
berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang
tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi
mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu
lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak,
sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda.
Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas
yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak
bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti
kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli
bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia
harus membagi perhatian bagi Nania dan juga
anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru,
si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya
sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat
hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut
menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke
rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak
banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak
keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah
meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat
anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan
tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin
penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak
perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam.
Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat
telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang
perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk
sanak famili mereka, melihat lelaki dengan
penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda
mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa
merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya
berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan
kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga
mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih
berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji
dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya
mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku
kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan
suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan
itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian
dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan
Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia
bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum
di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat
bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania.
Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak
memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak
bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat
sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias
perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan
kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya
yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab.
Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang
pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis,
menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke
dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan
airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya
beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah
lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir.
Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar
anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore
setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju
rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja
datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan
tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik
sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan
cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania
selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania
mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa
cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan
tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya
pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling
cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata
Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga
jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu
menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran,
nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus
ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal
yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu
bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan
pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua
yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang
berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana
kemari. Masih dengan senyum hangat di antara
wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang
yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga,
sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya
memberi pandangan iba, namun juga mengomentari,
mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari
perempuan kedua!

Nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang
menerima dia apa adanya.


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 26, 2005

Saya dan Perempuan 'Aneh' di KWK 02

sumber: Saya dan Perempuan 'Aneh' di KWK 02, Penulis: Helvy Tiana Rosa
(http://helvytr.multiply.com)

Saya dan Perempuan 'Aneh' di KWK 02

Saya pertama kali bertemu dengan perempuan itu
kira-kira dua minggu yang lalu. Hampir saya berteriak
kaget ketika masuk ke dalam angkutan KWK 02 dan
bertubruk pandang dengannya. Apalagi tak seorang pun
ada dalam angkutan jurusan Cililitan-Cilangkap itu.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Malam pekat. Saya
pulang dari TIM, usai rapat dengan teman-teman Dewan
Kesenian Jakarta. Saya memang sengaja tak naik taksi,
agar bisa lebih hemat. Ah, saya menarik napas tak
panjang. Perempuan itu tak berkedip menatap saya. Saya
membuang wajah ke jalan raya, tak mau balas menatap.
Ya Allah, siapa dia? Kapan ia turun? Di mana ia turun?
Ada apa dengannya? Pertanyaan-pertanyaan itu
berkecamuk di benak saya. Apakah ia gila? Mau
menodong? Apa ia akan membayar ongkos? Atau perlu saya
bayari?

Akhirnya, setelah cukup lama berdua-dua di angkot,
perempuan itu pun turun di depan panti jompo,
Cipayung. Entah mengapa saya merasa lega sekali.

Setelah kejadian tersebut saya masih beberapa kali
bertemu perempuan itu. Sukar bagi saya menggambarkan
sosoknya. Ia legam dan sedikit bungkuk. Badan pendek,
seolah bersisik. Rambutnya pendek dan acak-acakan,
seperti tak pernah disisir.. Matanya bulat seolah mau
keluar dari kelopak. Bibir sumbing sedang giginya
panjang tak beraturan. Ia memakai baju kumal yang
membuatnya semakin kusam saja. Pergelangan tangannya
dipenuhi gelang karet berwarna-warni.

Dua kali saya bertemu dalam angkot. Pertama hanya
berdua, dan berikutnya beramai-ramai dengan 6-7 orang
lainnya. Semua tak ada yang 'berani' melihatnya. Ia
seperti orang yang entah datang dari mana dan terus
menatapi para penumpang satu persatu. Malah setelah ia
turun dari kendaraan, seorang lelaki berkata:
"Gila, saya kira penampakan! Serem banget tuh
perempuan!"

Setelah pertemuan kedua, entah mengapa saya mulai
berpikir bahwa ia hanyalah perempuan biasa seperti
juga saya. Ia mungkin bekerja di suatu tempat
sebagaimana saya. Wajahnya memang seram, namun
bukankah ia tak pernah sekalipun mengganggu?

Hari berikutnya, KWK 02 yang saya naiki dari
Cililitan, dipenuhi penumpang. Saya melihat perempuan
itu naik dari Kramat Jati. Begitu ia hadir, hampir
semua penumpang buang muka atau menunduk. Pokoknya tak
mau melihat, dan kalau bisa tak dekat dengannya.

Ia masuk, mengangguk pada saya. Saya terpana dan
membalas anggukannya. Tak lama seorang ibu-yang tampak
terrpelajar-membagi-bagikan brosur dalam angkot.

"Ada lowongan kerja di perusahaan saya. Langsung
daftar aja. Gajinya lumayan loh," katanya.

Semua orang mendapat brosur, tapi tidak perempuan itu.

Tiba-tiba saya merasakan sesuatu di batin saya.
Mengapa ibu itu tak mau memperlakukan wanita tersebut
sederajat dengan penumpang yang lain? Apa karena ia
buruk rupa? Apa karena ia dianggap tak pantas, meski
sekadar memegang brosur wangi itu? Lantas mengapa jadi
saya yang sedih?

Entah datang darimana, tiba-tiba saya sudah menyapa
perempuan 'aneh' itu.

"Kemana, mbak? Kita sudah beberapa kali bertemu ya?
Ingat nggak?" sapa saya.

Beberapa orang di dalam angkot nyaris terbelalak
memandang saya seakan-akan saya adalah orang aneh
lainnya di sana. Saya tersenyum saja.

"Iya mbak. Saya mengenali mbak," tuturnya sopan.

"Saya juga," saya tertawa. "Mbak dari mana? Kerja
atau...?"

Saya mencoba untuk tak mempersoalkan wajahnya. Ya
Allah, hanya Engkau yang sempurna. Kami hanya sesama
hambamu. Tak ada yang lebih di mataMU dari kami,
selain taqwa kami.
Sungguh, siapa menjamin aku lebih baik dari perempuan
ini.

Tak lama kami sudah mengobrol dengan asyik. Perempuan
itu bercerita, ia menjaga anak kakaknya bila sang
kakak pergi bekerja.

"Kakak saya yang menggaji saya," katanya tertawa. Ia
hampir setiap malam naik angkutan 02.

Lalu kami ngobrol soal hujan, banjir, soal panti
balita dan panti jompo di dekat rumahnya, sampai soal
tsunami. Saya sampai kaget sendiri bisa sejauh itu.

Tak lama, perempuan tersebut bersiap turun. Namun apa
yang ia katakan sebelum sosoknya berlalu, tak mungkin
bisa saya lupakan.

"Semoga Allah menjaga Mbak. Saya senang akhirnya ada
orang yang mau negur saya, yang ngajak ngomong di
angkot. Terimakasih ya. Assalaamu'alaikum," suaranya
bergetar seperti ingin menangis.

Kata-kata perempuan itu berhamburan bersama angin.
Namun saya sempat menangkapnya dan sesuatu terasa
"nyes" di hati. Orang-orang dalam kendaraan itu tak
ambil pusing.

"Gila nggak sih cewek itu?" celutuk seorang pemuda
pada saya.

Saya menggeleng. Benar-benar menggeleng untuk beberapa
detik.

Pada akhirnya saya tahu betapa berarti, betapa
mewah-nya sebuah sapa. Bukankah sapa adalah salah satu
bentuk penghargaan kita terhadap orang lain? Maka apa
yang menghalangi kita untuk lebih sering menyapa?
Bukan hanya pada mereka yang kita kenal, yang
kebanyakan necis dan wangi. Namun juga menyapa mereka,
yang tanpa sadar telah kita sisihkan dari jalan yang
selama ini kita lalui.

Hari ini saya yakin, Mbak Sri, perempuan itu, bukan
orang aneh. Ia hanya perempuan yang memendam rindu
bertahun-tahun lamanya, hanya untuk sebuah sapa yang
kau ucapkan di malam dingin.***


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 17, 2005

The Story of the One-Eyed Mother

My mom only had one eye.
I hated her... she was such an embarrassment...
She cooked for students & teachers...to support the family. There was this
one day during elementary school and my mom came. I was so embarrassed. How
could she do this to me? I threw her a hateful look and ran out.

The next day at school...
"Your mom only has one eye?!?!"...eeeee said a friend.
I wished my mom would just disappear from this world.
So I said to my mom, "Mom... Why don't you have the other eye?! If you're
only gonna make me a laughing stock, why don't you just die?!!!"

My mom did not respond...
I guess I felt a little bad, but at the same time, it felt good to think
that I had said what I'd wanted to say all this time... Maybe it was because
my mom hadn't punished me, but I didn't think that I had hurt her feelings
very badly.

That night...
I woke up, and went to the kitchen to get a glass of water.
My mom was crying there, so quietly, as if she was afraid that she might
wake me. I took a look at her, and then turned away. Because of the thing I
had said to her earlier, there was something pinching at me in the corner of
my heart. Even so, I hated my mother who was crying out of her one eye. So I
told myself that I would grow up and become successful.

Then I studied real hard.
I left my mother and went to Singapore to study.

Then, I got married.
I bought a house of my own. Then I had kids, too...
Now I'm living happily as a successful man.
I like it here because it's a place that doesn't remind me of my mom.

This happiness was getting bigger and bigger, when...

What?! Who's this?!
It was my mother...Still with her one eye.
I felt as if the whole sky was falling apart on me.
Even my children ran away, scared of my mom's eye.
And I asked her, "Who are you?!" "I don't know you!!!" as if trying to make
that real. I screamed at her, "How dare you come to my house and scare my
children!"

GET OUT OF HERE! NOW!!!"

And to this, my mother quietly answered,
"Oh, I'm so sorry. I may have gotten the wrong address,"
and she disappeared out of sight.

Thank good ness... She doesn't recognize me. I was quite relieved. I told
myself that I wasn't going to care, or think about this for the rest of my
life. Then a wave of relief came upon me...

One day, a letter regarding a school reunion came to my house in Singapore.
So, lying to my wife that I was going on a business trip, I went. After the
reunion, I went down to the old shack, that I used to call a house... Just
out of curiosity

There, I found my mother fallen on the cold ground.
But I did not shed a single tear.
She had a piece of paper in her hand....It was a letter to me.

"My son...
I think my life has been long enough now...
And... I wont visit Singapore anymore...
But would it be too much to ask if I wanted you
to come visit me once in a while? I miss you so much..
And I was so glad when I heard you were coming for the reunion. But I
decided not to go to the school.

For you...
And I'm sorry that I only have one eye, and I was an embarrassment for you.

You see, when you were very little, you got into an accident, and lost your
eye. As a mom, I couldn't stand watching you having to grow up with only one
eye... So I gave you mine... I was so proud of my son that was seeing a
whole new world for me, in my place, with that eye. I was never upset at you
for anything you did.. The couple times that you were angry with me.. I
thought to myself, 'It's because he loves me..'

My son... Oh, my son... "

This message has a very deep meaning and is passed to remind people of the
goodness they have enjoy was because of others directly or indirectly. Pause
a moment and consider your life! Be thankful of what you have today compared
to many millions who do not live lives as you do!

Do spend some time in prayer for your mum out there!


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 14, 2005

Bunga Berduri

Sandra masuk ke dalam toko bunga dengan langkah berat. Ia sedang
mengalami hal berat dalam kehidupannya. Ketika ia sedang hamil empat bulan pada
kehamilannya yang kedua, sebuah kecelakaan mobil merengut nyawa
janinnya.

Pada minggu "Thanksgiving" ini, ia mungkin akan melahirkan seorang putra
jika kecelakaan itu tidak terjadi. Ia sangat sedih, benar-benar terpukul
atas kejadian itu. Tetapi sepertinya, kejadian itu belum cukup,
perusahaan di mana tempat suaminya bekerja, menugaskan suaminya untuk bekerja di
bagian cabang. Kemudian, adik perempuannya, yang ketika masa liburan tiba
selalu mengunjunginya, menghubunginya karena ia tidak dapat berkunjung pada
liburan kali ini.

Kemudian teman Sandra menasehati Sandra dengan mengatakan bahwa segala
kedukaan yang ia alami adalah jalan Tuhan untuk mendewasakannya sehingga
ia dapat bersikap lebih tenggang rasa terhadap penderitaan orang lain. "Ia
tidak tahu apa yang aku rasakan," pikir Sandra dengan lirih.

Thanksgiving? Berterima kasih untuk apa? pikirnya. Untuk supir truk yang
ceroboh, yang menyerempet mobilnya dengan sangat keras? Untuk kantong
udara penyelamat mobil yang menyelamatkan hidupnya, tetapi mengambil hidup
bayinya?

"Selamat siang, bisa saya bantu?" secara tiba-tiba ia berhenti dari
lamunannya.

"Aku... aku membutuhkan persiapan untuk thanksgiving," jawab Sandra
dengan gagap.

"Untuk Thanksgiving? Apakah kamu ingin suatu hal yang indah, tetapi
sederhana, ataukah kamu ingin menghadirkan situasi yang berbeda seperti
pilihan pelanggan di sini, yang kusebut sebagai 'Thanksgiving istimewa?'
tanya penjaga toko. "Aku yakin bunga-bunga itu menceritakan sesuatu
dalam kehidupanmu," lanjutnya. "Apakah kamu mencari sesuatu yang bisa
menyampaikan rasa terima kasihmu pada hari Thanksgiving ini?"

"Tidak juga!" celetuk Sandra. "Dalam lima bulan terakhir ini, semuanya
yang bisa menjadi buruk benar-benar menjadi buruk."

Sandra menyesali ucapannya tadi, dan sangat terkejut ketika penjaga toko
itu berkata, "Aku telah mempersiapkan sesuatu untukmu di hari Thanksgiving
ini."

Pada saat itu, bel pintu toko berbunyi, dan penjaga toko menyalami
seorang pelanggan yang baru saja masuk. "Hai, Barbara... tunggu sebentar yah,
aku ambilkan pesananmu." Penjaga toko itu masuk ke dalam, menuju ruang
kerjanya, kemudian muncul kembali sambil membawa berbagai macam persiapan untuk
Thanksgiving, seperti tanaman hijau, pita-pita, dan tangkai bunga mawar
duri yang panjang. Anehnya, hanya tangkainya saja, tidak ada bunganya.

"Mau dimasukkan ke dalam kotak?" tanya penjaga toko.

Sandra mengamati reaksi pelanggan itu. Apakah ini hanya lelucon? Siapa
yang mau tangkai mawar tanpa bunganya! Ia menunggu seseorang tertawa, tetapi
wanita itu tidak tertawa.

"Iya, Tolong yah," jawab Barbara dengan tersenyum.

"Aku kira setelah tiga tahun mengalami Thanksgiving yang istimewa, aku
tidak akan tersentuh dengan nilai dari Thanksgiving ini, tetapi aku bisa
merasakannya di sini," ia berkata sambil menyentuh dadanya. Dan ia pergi
dengan pesanannya.

"Uh," gumam Sandra, "wanita itu telah pergi dengan, uh... ia telah pergi
tanpa bunga!"

"Baiklah," kata penjaga toko, "Aku akan memotong bunga itu. Itulah
Thanksgiving istimewa. Aku menyebutnya sebagai 'Karangan Bunga Berduri
Thanksgiving'."

"Ayolah, kau tidak bisa menyebutkan siapa yang bersedia membayar untuk
tangkai bunga seperti itu!" seru Sandra.

"Barbara datang ke toko ini tiga tahun yang lalu dengan perasaan sama
seperti yang kau alami sekarang ini," si penjaga toko menjelaskan. "Ia
berpikir tidak perlu banyak berterima kasih kepada Tuhan. Ia telah
kehilangan ayahnya karena penyakit kanker, bisnis keluarganya juga
sedang buruk, putranya terlibat dalam masalah obat-obatan, dan ia tengah
menghadapi operasi pembedahan yang sangat serius."

"Pada tahun yang sama, aku kehilangan suamiku," lanjut si penjaga toko,
"dan untuk pertama kalinya dalam kehidupanku, aku menghabiskan liburan
sendirian.
Aku tidak memiliki anak, suami, kerabat dekat, dan memiliki banyak
utang."

"Jadi apa yang kau lakukan?" tanya Sandra.

"Aku belajar untuk berterima kasih atas segala penderitaanku," jawab
penjaga toko itu dengan pelan. "Dulu aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas
segala hal yang baik dalam kehidupanku dan tidak pernah mempertanyakan mengapa
hal yang terbaik terjadi kepadaku. Tetapi, ketika hal yang buruk menimpaku,
aku mempertanyakan berbagai pertanyaan kepada Tuhan, aku menyalahkan Tuhan,
aku marah kepada Tuhan! Aku membutuhkan waktu lama untuk mengerti dan
mempelajari bahwa saat-saat sulit dan menderita sangatlah penting. Saat
kita menderita itulah, kita memperoleh kekuatan. Aku selalu terlena dengan
'bunga' kehidupanku, tetapi ternyata duri kehidupankulah yang
memperlihatkan kepadaku keindahan dari kerahiman Tuhan. Kau tahu, dalam alkitab
tertulis bahwa Tuhan selalu menghibur kita ketika kita menderita, Tuhan
memberikan kepada kita kekuatan, dan dari penghiburanNya lah kita belajar untuk
menghibur orang lain."

Sandra mulai berpikir tentang perkataan temannya yang mencoba untuk
memberitahukan kepadanya. "Aku rasa yang benar adalah aku tidak perlu
dihibur. Aku telah kehilangan bayiku dan aku marah terhadap Tuhan."

Pada saat itu juga seseorang masuk ke dalam toko. "Hey, Phil!" teriak
penjaga toko kepada seorang pria botak bertubuh gemuk.

"Istriku memintaku untuk mengambil pesanan Thanksgiving istimewa... dua
belas tangkai duri!" canda Phil ketika si penjaga toko menyerahkan
sebuah bungkusan persiapan Thanksgiving.

"Semuanya itu adalah untuk istrimu?" tanya Sandra ragu. "Apakah kau
keberatan jika aku bertanya mengapa ia menginginkan sesuatu seperti itu
pada hari Thanksgiving?"

"Tidak... bahkan aku sangat senang kau bertanya," jawab Phil. "Empat
tahun lalu, aku dan istriku hampir bercerai. Setelah empat puluh tahun, kami
berada dalam keadaan yang kacau, tetapi dengan kasih Tuhan dan
bimbinganNya, kami berhasil mengatasi masalah demi masalah. Tuhan telah menyelamatkan
pernikahan kami. Jenny di sinilah (sang penjaga toko) yang mengatakan
kepadaku bahwa ia menyimpan vas bunga yang berisikan tangkai bunga mawar
untuk mengingatkan kepadanya apa yang ia pelajari dari saat-saat
'berduri' dalam kehidupannya, dan itu sangatlah menjelaskanku. Aku membawa
beberapa tangkai bunga mawar ke rumah. Lalu aku dan istriku memutuskan untuk
menamai setiap tangkai bunga dengan masalah yang kami hadapi, kami berusaha
untuk mengerti maksud dari masalah itu, dan ternyata duri-duri yang kami alami
itu benar-benar memberikan kekuatan kepada kami, kami berterima kasih kepada
Tuhan atas pelajaran dari masalah itu."

Setelah Phil membayar penjaga toko itu, ia berkata kepada Sandra, "Aku
sangat menyarankan agar kau mengambil yang 'istimewa'"

"Aku tidak mengetahui apakah aku bisa bersyukur atas duri kehidupanku,"
kata Sandra. "Semua duri itu masih sangatlah.... baru."

"Baiklah," jawab penjaga toko itu dengan hati-hati, "pengalamanku telah
menunjukkan kepadaku bahwa duri dalam kehidupan kita telah membuat
bunga-bunga kehidupan kita lebih berharga. Kita menyimpan anugerah Tuhan
lebih baik selama kita berada dalam masalah dibandingkan dengan
saat-saat lain. Ingat, karena mahkota duri yang Yesus kenakanlah sehingga kita
dapat mengalami kasihNya. Jangan menyesali duri-duri kehidupanmu. Duri-duri
kehidupanmu itulah yang membentukmu dan memberimu kekuatan."

Air mata mengalir deras di pipi Sandra. Untuk pertama kalinya sejak
kecelakaan itu, ia menghilangkan duka dan penyesalannya. "Aku akan
mengambil dua belas tangkai bunga berduri, tolong yah...." ia berkata sambil
terisak-isak.

"Baiklah, aku akan menyiapkan mereka dalam beberapa menit," jawab
penjaga toko itu dengan ramah.

"Terima kasih. Berapa semua biayanya?"

"Tidak ada. Tidak ada, yang ada hanya suatu janji bahwa kau akan
mengijinkan Tuhan untuk menyembuhkan hatimu. Biarkan aku membelikanmu barang
persiapan untuk Thanksgiving tahun pertamamu." penjaga toko itu tersenyum dan
menyerahkan sebuah kartu kepada Sandra. "Aku selipkan kartu ini dalam
barang-barang persiapan Thanksgiving, tetapi mungkin kau ingin
membacanya terlebih dahulu."

Di dalam kartu itu tertulis : "Tuhanku, aku belum pernah bersyukur
kepadaMu untuk semua duriku. Aku berterima kasih kepadaMu atas segala bunga
kehidupan yang kuterima, tetapi belum pernah sekalipun aku berterima kasih untuk
penderitaanku. Ajarilah aku untuk menanggung beban salibku dengan tabah,
ajarilah aku untuk menghargai nilai yang terkandung dari setiap
penderitaan atau duri yang kuhadapi. Tunjukkanlah kepadaku, bahwa lewat jalan yang
sulit, menderita, dan jalan yang penuh dengan kerikil, setiap hari aku
semakin bertambah dekat denganMu. Tunjukkanlah kepadaku, ya Tuhan, lewat
air mataku, warna pelangiMu yang sangat indah."

Pujilah nama-Nya untuk segala bunga kehidupanmu, berterima kasihlah
kepadaNya untuk semua duri yang kau peroleh!


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 13, 2005

Kebahagiaan

Seorang lelaki berumur 92 tahun yang mempunyai
selera tinggi,percaya diri, dan bangga akan dirinya sendiri,
yang selalu berpakaian rapi setiap hari sejak jam 8 pagi,
dengan rambutnya yang teratur rapi meskipun dia buta,
masuk ke panti jompo hari ini.

Istrinya yang berumur 70 tahun baru-baru ini meninggal,
sehingga dia harus masuk ke panti jompo.

Setelah menunggu dengan sabar selama beberapa jam di lobi,
Dia tersenyum manis ketika diberi tahu bahwa kamarnya telah siap.

Ketika dia berjalan mengikuti penunjuk jalan ke elevator,
aku menggambarkan keadaan kamarnya yang kecil,
termasuk gorden yang ada di jendela kamarnya.

Saya menyukainya, katanya dengan antusias seperti seorang
anak kecil berumur 8 tahun yang baru saja mendapatkan seekor anjing.

Pak, Anda belum melihat kamarnya, tahan dulu perkataan tersebut.

Hal itu tidak ada hubungannya, dia menjawab.

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kamu putuskan di awal.
Apakah aku akan menyukai kamarku atau tidak,
tidak tergantung dari bagaimana perabotannya diatur
tapi bagaimana aku mengatur pikiranku.

Aku sudah memutuskan menyukainya. Itu adalah keputusan yang kubuat
setiap pagi ketika aku bangun tidur.

Aku punya sebuah pilihan; aku bisa menghabiskan waktu
di tempat tidur menceritakan kesulitan-kesulitan yang terjadi
padaku karena ada bagian tubuhnya yang tidak bisa berfungsi lagi,
atau turun dari tempat tidur dan berterima kasih atas bagian-bagian yang masih berfungsi.

Setiap hari adalah hadiah, dan selama mataku terbuka,
aku akan memusatkan perhatian pada hari yang baru dan
semua kenangan indah dan bahagia yang pernah kualami dan kusimpan.

Hanya untuk kali ini dalam hidupku.

Umur yang sudah tua adalah seperti simpanan dibank.

Kita akan mengambil dari yang telah kita simpan.

Jadi, nasehatku padamu adalah untuk menyimpan sebanyak-banyaknya
kebahagiaan di bank kenangan kita.

Terima kasih padamu yang telah mengisi bank kenanganku.
Aku sedang menyimpannya.

Ingat-ingatlah lima aturan sederhana untuk menjadi bahagia:

1. Bebaskan hatimu dari rasa benci.
2. Bebaskan pikiranmu dari segala kekuatiran.
3. Hiduplah dengan sederhana.
4. Lebih mencintai Tuhan, diri sendiri dan sesama
5. give more, expect less


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)

October 06, 2005

5 Aturan Sederhana untuk Hidup Bahagia

Ingatlah lima peraturan sederhana ini untuk hidup bahagia

- Bebaskan dirimu dari kebencian
- Bebaskan pikiranmu dari kesusahan
- Hiduplah secara sederhana
- Berilah lebih
- Kurangilah harapan

Tiada seorangpun yang bisa kembali dan mulai dari awal. Setiap orang
dapat mulai saat ini dan melakukan akhir yang baru. Tuhan tidak
menjanjikan hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, matahari
tanpa hujan, tetapi Dia menjanjikan kekuatan untuk hari itu,
kebahagiaan untuk air mata, dan terang dalam perjalanan.

Kekecewaan bagai "polisi tidur", ini akan memperlambatmu sedikit
tetapi kau selanjutnya akan menikmati jalan rata. Jangan tinggal
terlalu lama saat ada "polisi tidur". Berjalanlah terus!

Ketika kau kecewa karena tidak memperoleh apa yang kaukehendaki,
terimalah dan bergembiralah, karena Tuhan sedang memikirkan sesuatu
yang lebih baik untuk dirimu.
Saat terjadi sesuatu padamu, baik atau buruk, pertimbangkanlah
artinya.....

Ada suatu maksud untuk setiap kejadian dalam kehidupan, mengajarmu
bagaimana lebih seringkali tertawa atau tidak terlalu keras menangis.
Kau tidak dapat memaksa seseorang mencintaimu, apa yang dapat kau
perbuat hanyalah membiarkan dirimu untuk dicintai, selebihnya ada
pada orang itu untuk menilai dirimu.

Ukuran cinta adalah saat kau mencintai tanpa batas. Dalam kehidupan
jarang akan kau temui seseorang yang kau cintai dan orang itu
mencintaimu juga. Jadi sekali kau memperoleh cinta jangan lepaskan,
ada kemungkinan cinta itu tidak datang kembali. Lebih baik kehilangan
harga dirimu kepada orang yang mencintaimu, daripada kehilangan orang
yang kau cintai karena harga dirimu.

Kita selalu membuang-buang waktu untuk mencari-cari orang yang sesuai
untuk dicintai atau melihat kesalahan2 pada orang yang telah kita
cintai, daripada malah seharusnya kita menyempurnakan cinta yang kita
berikan. Jika kau sungguh2 peduli pada seseorang, janganlah kau
mencari2 kekurangan2nya, kau jangan mencari2 alasan, kau jangan
mencari2 kesalahan2nya. Malahan, kau atasi kesalahan2 itu, kau terima
kekurangan2 itu, dan jangan kau hiraukan alasan2 itu.

Jangan pernah meninggalkan rekan lama. Kau tidak akan pernah mendapat
penggantinya. Persahabatan adalah bagai anggur, tambah lama akan
tambah baik.


(Part of wisewords collection at http://www.monx007.com)